• |  
           

Metode Mendidik Anak Pra Remaja dan Remaja di Era Digital (Generasi Platinum) Berdasarkan Ajaran Isl

Posted March 28, 2016
Written by R Adawiyah
Category Berita


Metode Mendidik Anak Pra Remaja dan Remaja di Era Digital (Generasi Platinum) Berdasarkan Ajaran Islam
 
Oleh : Ibu Sri W Rahmawati, M.Si, Psikolog
Narasumber rubrik konsultasi Majalah Risalah Darul Qur’an
Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Konsultan pada lembaga psikologi Q Consulting dan salah satu pengasuh rubrik majalah Ummi.
 
 
Mendidik anak bukanlah hal yang mudah, sebagaimana Al Qur’an mensifatkan anak sebagai ujian bagi orang tuanya, di samping harta dan kekayaan. Pendidikan juga perlu memperhatikan perkembangan zaman (konteks) maupun prinsip-prinsip-prinsip pendidikan (content) yang harus ditanamkan.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ulama yang bergerak dalam bidang tarbiyatul aulad, maka metode pendidikan islam yang digagas oleh Abdullah Nashih Ulwan dan berlandaskan pada Al Qur’an, tampak paling sistematis. Tinjauan dari sisi psikologis pun menunjukkan bila metode tersebut merupakan metode yang komprehensif.
Abdullah Nashil Ulwan menerapkan lima metode pendidikan, yang saya rangkum berdasarkan perspektif psikologi Islam, yaitu sebagai berikut:
  1. qudwah hasanah (integrated  role model),  yaitu orang tua/pendidik hendaknya menjadi contoh terlebih dahulu dalam sikap maupun perbuatan sebelum memberikan nasehat ataupun mengarahkan remaja. Tanpa contoh langsung, maka remaja pada era digital ini akan secara kritis memberikan protes atau ketidaksetujuan antara ketidakidealan yang dilihatnya.
  2.  al aadah (habituation), sesudah diberikan contoh (model), selanjutnya remaja perlu dibiasakan/dikondisikan untuk melakukan hal-hal yang sudah disepakati sebagai aturan dalam tingkah laku keseharian. Orang tua/pendidik dalam hal ini harus bersikap konsisten untuk selalu mengingatkan.
  3. al mauidzah (effective advice), pemberian nasehat yang berkesan melalui cara dialog, komunikasi dua arah, lewat bercerita, sharing antar orang tua/pendidik dan remaja. Intinya pada point ini adalah, remaja mendapatkan kesempatan untuk menceritakan keluh kesahnya kepada orang tua/pendidik sehingga mereka memperoleh insight/masukan, bagaimana menyelesaikan persoalannya.
  4.  al mulahadzah (fairness in care and control), pemberian perhatian dan melakukan pemantauan secara adil dari pendidik/orang tua pada remaja. Selain diberikan perhatian untuk kebutuhannya, remaja juga perlu diajari untuk melakukan apa yang sudah disepakati. Kontrol terhadap perilaku remaja diperlukan pada tahap ini.
  5.  uqubah wa ujaroh (proportional consequence), yaitu pemberikan konsekuensi ketika remaja melakukan pelanggaran terhadap hal yang sudah disepakti. Setelah kelima metode di atas diterapkan, maka orang tua/pendidik boleh memberikan sanksi bila memang remaja melanggar kesepatakan, sebaliknya juga memberikan reward (penguatan) bila remaja melakukan perilaku terpuji. Keduanya diberikan secara proporsional oleh pendidik.
 

Comments

There are no comments

Posting comments after three months has been disabled.