VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Kemuliaan Bulan Rajab


Resume Tausyiah KH. Abdul Hasib Hasan Untuk Para Santri DQM

Para Santri Darul Qur'an Mulia yang saya cintai. Hari ini kita sudah memasuki bulan rajab, tepatnya tanggal 12 rajab. Bulan Rajab dalam Al-Qur'an disebutkan sebagai salah satu dari empat bulan haram lainnya dalam kalender hijriyah dimana Allah Swt memuliakan bulan tersebut. Dalam kutipan Surat At-Taubah ayat 36 Allah Swt berfirman, "minhaa arba'atun hurum, diantaranya ada empat bulan haram". Dari dua belas bulan itu terdapat empat bulan yang sangat dimuliakan diantaranya bulan Muharram, Rajab, Zulqa'dah, dan Zulhijjah. Sebagian ulama mengistilahkannya: tsalatsatun sard (tiga bulan berturut-turut) wa wahidun fard (satu bulan sendirian, yaitu bulan Rajab).

Empat bulan ini disebut haram karena pada empat bulan ini diharamkan berperang. Selain itu, juga sebagai bulan yang sangat dimuliakan. Karenanya Allah Swt. mengingatkan kepada kita, "Fala tazhlimu fihinna anfusakum (Janganlah pada bulan yang dimuliakan itu kamu berbuat zhalim terhadap dirimu sendiri)". Ketika seseorang berbuat zhalim, baik kepada orang lain, maupun kepada dirinya sendiri di bulan tersebut, maka dosa yang diterima akan jauh lebih besar dibanding ketika ia berbuat dosa diluar empat bulan haram itu.

Itulah sesungguhnya orang-orang yang paling bangkrut atau bangkrut, yaitu orang yang berbuat kezhaliman kepada orang lain. Bahwasannya kelak di akhirat, orang-orang yang pernah dizhalimi akan menuntut balik. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda". Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpah kan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikan nya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka (yang pernah dia zalimi) ditimpakan kepadanya dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Ibnu Hibban, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad)

Disamping tidak berbuat zhalim, perlu diingatkan juga agar saling memanfaatkan sehingga kesalahan kita selama di dunia tidak dibawa hingga akhirat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda, "Siapa yang pernah berbuat zalim kepada orang lain, hendaklah minta maaf sekarang kepada orang yang dizalimi sebelum tiba suatu hari tanpa ada dinar atau dirham untuk menebus kezalimannya (hari kiamat)". (HR. Bukhari)

Selanjutnya dengan mengembalikan hak-hak atau milik orang-orang yang pernah kita zhalimi atau kita ambil, rusak, hilangkan, pinjam tanpa izin dan lainnya. Menahan untuk tidak berbuat zhalim pada bulan haram itu bukan berarti boleh melakukan kezhaliman diluar empat bulan haram, tapi juga kesemua bulan yang ada atau setiap waktu sampai kapanpun. Jika penduduk arab terdahulu saja yang terkenal dengan kezhalimannya yang luar biasa kejam bisa menghormati bulan haram tersebut dengan menahan untuk tidak melakukan kezhaliman di bulan-bulan tersebut, menjadi manusia yang paling buruk jika orang-orang yang mukmin masih saja berbuat kezhaliman pada bulan-bulan tersebut.

Yang Kedua, juga diingatkan bahwasannya, "Waqatilul musyrikina kaffatan kama yuqatilunakmu kaffah", yaitu kita kaum muslimin tidak boleh kehilangan kewaspadaannya terhadap empat bulan ini, sebab bisa saja ada pihak-pihak yang tidak mengindahkan larangan berperang pada bulan ini, kemudian menyerang kaum muslimin. Jika hal ini terjadi, kaum muslimin dibenarkan melakukan perlawanan untuk membela diri. Rasulullah Saw bersabda, "Siapa saja yang terbunuh karena membela agamanya maka ia syahid, siapa saja yang terbunuh karena membela jiwanya maka ia syahid, siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid, dan siapa saja yang terbunuh karena membela kehormatan keluarganya maka ia syahid". (HR. Abu Daus, at-Tirmidzi, an-Nasaiy, Ibnu Majah)

Apabila seseorang dizhalimi,maka ia dibolehkan untuk membalasnya dengan perlakuan yang serupa, walaupun memaafkannya adalah kebaikan. Allah Swt. berfirman, "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Al-Syura: 40) Yang Ketiga, Wa'lamu annallaha ma'al muttaqin, yaitu kaum muslimin hendaknya terus menjaga dan meningkatkan ketaqwaannya agar tetap mendapatkan ma'iyyatullah (kebersamaan Allah SWT). "Dan bertaqwaah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa" (QS. Al-Baqarah: 194)

Selain itu, saya ingatkan untuk semua santri khususnyua kelas sembilan yang Senin nanti akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Untuk itu belajar dengan maksimal karena waktu tiga hari yang tersisa ini sesungguhnya waktu yang berharga. Pertama, belajar sungguh-sungguh dengan memperbanyak latihan menjawab soal-soal. Kedua, berdoa kepada Allah Swt. agar diberi kemudahan dalam belajar dan memahami soal-soal yang ada serta menjawabnya dengan cermat dan benar. Robbi zidni ilma warzuqni fahman (Ya Allah, tambahkanlah ilmu yang bermanfaat bagiku, dan berikanlah pemahaman yang luas), serta Robbish rohli sodri wayasirli amri wahlul uqdatamilisaani yafqahu qauli (Ya Robbi lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku dan lepaskanlah kekakuan dalam lidahku).

Memasuki Bulan Rajab ini, baiknya dimanfaatkan dengan belajar sungguh-sungguh, berdoa lebih banyak kepada Allah Swt dan rajin beribadah serta semakin dekatkan diri kepada-Nya agar hati lebih tenang dan tenteram. Jika seseorang hatinya lebih tenang, membuat pikiran lebih mudah mahami dan menjawab persoalan dengan baik. Begitupun sebaliknya. Ketiga, hendaknya saling membantu menjaga suasana agar kondusif dan mendoakan satu sama lain. Karena ketika ketika mendoakan untuk orang lain, malaikat mengaminkan doa tersebut, “Dan kamu mendapatkan sama seperti yang kamu doakan untuk orang lain”. Hal ini perlu dijadikan kebiasaan kita dengan saling mendoakan sesama.

Jadi dalam bulan Rajab ini, mari tingkatkan amal kebaikan dan jauhi perbuatan zhalim, saling meminta maaf dan memaafkan jika ada kesalahan di masa lampau, tingkatkan semangat belajar, dan ibadah kepada Allah Swt serta saling mendoakan sesama agar bisa menghadapi ujian dengan baik dan hasil yang baik pula. Aamiin

FOTO GALERI DQM TERBARU