VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Profesi Guru dalam Perspektif Islam


Oleh KH. Abdul Hasib Hasan

Bismillahirrahmaanirrahim. Alhamdulillahilladzi allafa baina quluubinaa fa ashbahnaa bini'matihi wa bi fadhlihi ikhwaanaa.

Kajian  bulanan ini sesungguhnya kegiatan yang penuh ni'mat. Penuh dengan ukhuwah, mengaji bersama, saling peduli dan cinta satu sama lain bahkan bisa menggugurkan segenap dosa. Seperti Kisah seseorang yang sedang berkunjung ke sanak saudaranya tiba-tiba bertemu dengan seseorang malaikat yang menyerupai malaikat di tengah perjalanan, lalu ditanyalah seseorang itu oleh malaikat hendak kemana. Seseorang itu menjawab bahwa ia ingin berkunjung karena cintanya kepada saudaranya. Lalu dikatakan kepada beliau bahwa Allah Swt. telah mengampuni dosa-dosanya. Seorang muslim apabila bertemu dengan sesama muslim dan berjabat tangan maka sebelum melepas jabat tangannya dosa-dosanya akan berguguran. Pertemuan dengan sesama muslim adalah kebutuhan bersama dalam rangka meningkatkan ukhuwah juga menghapuskan dosa.

Profesi guru dalam perspektif Islam merupakan pekerjaan yang sangat mulia, dan orang-orang yang menekuni profesi tersebut dipandang sebagai orang yang dimuliakan. Allah Swt. menyebutkan dalam surat Ar-Rahman ayat 1-2, “Arrahmaan 'allama alqur'aan, (Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur'an)”. Sehingga wajar jika pekerjaan mengajar ini dinisbatkan kepada diri-Nya. Karena kemuliaan profesi guru itu pula yang membuat Mantan Presiden Republik Indonesia Ke-3, BJ. Habibie mengatakan bahwa, “Allah adalah profesornya profesor, gurunya guru”.

Allah Swt-lah yang mengajarkan Nabi Adam. Dia pula yang mengajarkan Al-Qur'an. Ketika Allah Swt. menisbatkan suatu pekerjaan kepada diri-Nya, berarti pekerjaan itu mulia. Sesungguhnya orang yang turut mengerjakan apa yang Allah Swt. kerjakan Adalah orang yang mulia. Sama halnya yang dilakukan oleh Malaikat Jibril, Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Hadzaa Jibriil ataakum liyu'allima diinakum” (Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian)”. Perbuatan utama yangg dilakukan oleh malaikat pilihan itu ternyata Juga adalah perbuatan utama yang dilakukan oleh para nabi termasuk Muhammad Saw,. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al Jumu'ah: 2)

Karena itu pula yang menjadikan Nabi Ibrahim As. memiliki cita-cita yang sangat tinggi dan berdoa kepada Allah Swt. agar anak-anaknya kelak menjadi rasul yang tugasnya mengajarkan kebaikan. Harus hadir dalam diri kita keyakinan bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia. Harus melekat dalam diri kita dimanapun, kapanpun kita berada. Tidak ada perbuatan lain yang lebih mulia selain profesi guru. Namun kebanyakan manusia memandangnya dengan persprektif yang berbeda bahwa profesi guru selalu menjadi pilihan terakhir kebanyakan manusia dalam menentukan profesi pekerjaan dalam hidupnya. Padahal Mantan Presiden RI Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono menjelang akhir masa jabatannya mengatakan ia akan kembali mengajar, entah itu mengajar di kesaatuan Tentara nasional Indonesia (TNI) tempat ia memulai karirnya, maupun di bidang lainnya. Hal itu patut diapresiasi untuk sosok yang pernah menjabat sebagai presiden kemudian menjadikan profesi guru sebagai pilihan karir berikutnya.

Profesi sebagai seorang guru sesungguhnya telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As. Sejak dulu kala. Berkat profesinya itu sebagai nabi yang mengajarkan kebaikan, darinya ia memiliki dua orang putera yang juga nabi, yakni Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Dari kedua putranya inilah kemudian lahir nabi-nabi lainnya mulai dari Nabi Yaqub, Yusuf, Isa As hingga nabi akhir zaman, Muhammad Saw. Oleh karena itu, tidak salah jika Ibrahim memperoleh gelar sebagai Bapaknya para Nabi (Abul Anbiya').

Harus diakui bahwa kita sebagai guru, belum tentu memiliki penilaian bahwa profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Untuk itu saya ingatkan agar profesi sebagai guru terus melekat pada diri kita sampai kapanpun dan dimanapun kita berada walaupun pergi jauh dari tempat tinggal kita berasal. Selain dipandang sebagai profesi yang sangat mulia, profesi guru dalam perspektif Islam, juga dipandang sebagai profesi yang strategis dan paling besar nilainya. Rasul Saw. dalam hadist yang shahih menjelaskan bahwa profesi guru merupakan profesi yang kedudukannya berada di bawah rasul: (Innamaa bu'itstu mu'aliliman) (wa ajwadukum ba'dii man ta'allamal ‘ilma wa nasyaro ‘ilmahu) (wa laakin kuunuu robbaaniyyiina bimaa kuntum tu'allimuunal kitaaba wa bimaa kuntum tadrusuun). “Dan aku ini manusia yang paling dermawan, orang yang paling dermawan diantara aku adalah orang yang menambah ilmu kepada dirinya lalu mengajarkan kepada orang lain”. Allah Swt dalam firmannya juga menyerukan: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani (orang yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu mempelajarinya”. (QS. Ali-‘Imran: 79)

Oleh karena itu, perlu kita sadari tentang kemuliaan dari profesi guru ini. Apabila kita yang sebagai guru saja belum bangga dengan profesi ini, hal itu tidak akan menjadikan kita berupaya maksimal membagikan ilmu yang kita miliki kepada anak didik kita. Jadi jangan harap mereka akan mengatakan yang sangat baik kepada kita selain sekedar ucapan “terimakasih guru, atau pahlawan tanpa tanda jasa” yang terucap di lisan mereka lalu dilupakan begitu saja. Pada akhirnya menjadi wajar jika masyarakat menilai profesi guru demikian dikarenakan keilmuan mereka tentang agamanya yang memuliakan profesi guru saat ini masih sangat rendah. Padahal Umur biologis yang sangat singkat bisa tetap memiliki pahala yang tidak terputus-putus dengan cara menjadi guru (Idzaa maata ibnu aadam inqoto'a ‘amaluhu illa min tsalaatsin shodaqotun jaariyah, ‘al'ilmu yantafa'u bihi, waladun shoolihun yad'uu lahu). Sebagaimana firman Allah swt. Wa innaka la ajron ghoiro mamnuun. pahala yang tidak terputus sejak 14 abad yang lalu. Itulah kenapa kita harus membangun paradigma dengan menghargai profesi guru melalui perspektif Islam.

Berprofesi sebagai seorang guru tentunya memiliki balasan yang luar biasa, Rasulullah Saw. bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do'a anak yang sholeh”. (HR. Muslim). Ada kriteria yang bisa menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan pahala tiada putus-putusnya itu, yaitu ikhlas.

Ada suatu kisah tentang tiga orang yang secara lahiriah memiliki amalan yang luar biasa, yaitu orang dermawan yang luar biasa sedekahnya, mujahid yang luar biasa pemberani dan bersemangat, dan guru qur'an yang suka menghafa Al-Qur'an dan mengajarkannya. Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.” Allah berkata,“Kamu bohong. Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka. Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur'an didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur'an demi mencari ridhamu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur'an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur'an.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka. Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.” Allah berkata,“Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka. Abu Hurairah berkata,“Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalag manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Menjadi sangat sia-sia akhirnya jika segala amal yang kita perbuat selama hidup di dunia menjadi tidak berharga di hadapan Allah Swt. hanya karena tidak diikuti niat yang ikhlas semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah Swt. Itulah kenapa menjaga keikhlasan itu sangat penting tapi tidak mudah dilaksanakan karena apa yang terucap di lisan belum tentu sama dengan isi hati. Karenanyalah selalu berdoa, “Ya Allah anugerahi aku keihlasan dalam bicara dan beramal”.

Selain mengetahui tentang kemuliaan dan balasan pahala yang Allah Swt berikan kepada orang-orang yang berprofesi sebagai guru, perlu kita ketahui pula macam-macam klasifikasi guru agar bisa menjadi tolak ukur kita dalam memposisikan diri apakah kita sudah menjalani profesi guru dengan sangat baik. Klasifikasi tersebut menjadi 3 macam: Satu, guru yang zholim, tidak melaksanakan kewajibannya, Zhoolim li talaamidzihi wa zhoolim bi nafsihi zholim kepada murid maupun dirinya dengan tidak mengajar dengan sebaik-baiknya. Tidak ada persiapan yang baik, implementasi yang baik, evaluasi dengan baik. Dan termasuk zholim juga apabila tidak meri'ayah keikhlasan yang berdampak kepada ditolaknya amal kita. Allah Swt. mewajibkan manusia berbuat sebaik-baiknya dalam segala hal (wa ahsinuu innallaaha yuhibbul muhsiniin). Contohnya perihal penyembelihan qurban dimana seseorang ketika ingin menyembelih hewan qurban harus menggunakan pisau yang sangat tajam. Jika untuk urusan biasa saja harus ihsan apalagi mengajar. Kedua, guru yang muqtashid, yaitu menunaikan kewajibannya dengan sangat baik, termasuk kewajiban menjadi teladan (Qudwah,). Ada hasil penelitian yang berkesimpulan bahwa seorang anak baik di rumah, maupun anak didik lebih melaksanakan apa yang dilihat dari orangtua atau gurunya disbanding yang diperintahkannya. Ketiga, Saabiqun bil khoiroot, Selalu terdepan melakukan kebaikan, peduli dan tidak hanya terikat dengan kewajijban saja. Baginya bagaimana terjadi perubahan karakter bagi siswa didiknya.

Itulah tiga klasifikasi guru yang ada agar bisa menjadi parameter dalam mengetahui baik-tidaknya kita dalam menjalani profesi seorang guru. Terakhir, tinggal kita memposisikan diri dimanakah posisi kita yang sesungguhnya sehingga menjadi evaluasi kita untuk menjauhi posisi yang buruk dan menempatkan diri pada posisi yang terbaik, sabiqun bil khoirot.

FOTO GALERI DQM TERBARU