VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Guru sebagai Figur Teladan


Pentingnya Ri'ayah Ma'nawiyah & Ruhiyah

Bagi Seorang Guru Sebagai Figur Teladan

Oleh: KH. Abdul Hasib Hasan

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Para Ustadz/ah yang dirahmati Allah Swt. Saya ingatkan kembali bahwa program tasqif ini merupakan program Ri'ayah ma'nawiyah atau ri'ayah ruhiyah kita dalam rangka memelihara dan meningkatkan ma'nawiah dan spiritual kita. Untuk itu kenapa perlu saya ingatkan bahwa kemuliaan, tingginya derajat, dan kehormatan kita sebagai manusia terkait dengan sejauh mana kita mampu meri'ayah ma'nawiyah dan ruhiyah kita.

Dahulu ketika Allah Swt. menciptakan Nabi Adam dari tanah, dan fisiknya telah terbuat sempurna, Allah Swt. belum memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam. Dengan kata lain, pada awal penciptaan manusia, sesungguhnya secara fisik manusia tidak terhormat sama sekali, tapi kemudian Allah Swt. memasukan ruh ke dalam tubuh manusia dan menjadikan manusia saat itu juga dihormati para malaikat. "Apabila telah aku masukkan kedalam jasad Adam itu ruh atas izin Allah, maka sujudlah para malaikat-malaikat”. Itulah yang menjadikan ri'ayah ruhiyah menjadi sangat penting bagi fisik kita. Dan menjadi sangat bermanfaat ketika kita kembali kepada Allah Swt di akhirat kelak dengan ruhiyah yang benar-benar suci.

Hasan Al Banna dalam membuat kriteria utama seorang muslim sejati adalah salimul 'aqidah (aqidah yang bersih), bukan sohihul ibadah. Hatinya yang bersih karena ri'ayah yang baik dan maksimal terhadap ma'nawiyah dan ruhiyah. Sehingga saya ingatkan kembali bahwa kebutuhan akan program ma'nawiyah dan ruhiyah ini jauh lebih penting dari sekedar kewajiban untuk menghadiri kegiatan ini. Itulah kenapa pendekatan kebutuhan ini menjadi pendekatan utama karena pada esensinya yang menggerakkan kita dimotori oleh ma'nawiyah kita, bukan fisik kita. Tidak sedikit individu yang memiliki fisik yang unggul, tapi produktifitasnya rendah. Namun apabila ma'nawiyah ruhiyah individu tersebut berhasil dipelihara dengan baik, maka itu mampu menjadikan produktifitasnya menjadi luar biasa.

Abdullah bin Mas'ud, tidak ada jihad dari Rasulullah Saw yang tidak ia ikuti dan tidak ada pula ilmu alqur'an yang tidak ia ketahui. Padahal tubuhnya sangat kurus sampai diceritakan ia berayun-ayun di atas pohon siwak. Kemudian ada seorang tabiin bernama Abu Abdurrahman Abdullah bin Abdurrahman As Sulami yang mulai dari usia 15 tahun bersemangat menekuni profesi guru sampai berusia 85 tahun sejak pemerintahan usman bin Affan sampai masa pemerintahan Hajjaj. Figur teladan yang berhasil melahirkan ribuan generasi sholihin berikutnya. Sederhananya, yang membuat ia bersemangat menekuni profesi guru selama 70 tahun itu karena ma'nawiyah dan ruhiyah pada dirinya. Itulah kenapa program ini hakikatnya menjadi kebutuhan kita, sekaligus pertemuan ini menjadi amalan kita dalam rangka saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Watawashoubil haq, watawashoubis shobr. Kebiasaan para sahabat terdahulu di setiap pertemuan, selalu saling menyampaikan wahyu atau mengingatkan, ketika hendak berpisah. Karenanya termasuk orang-orang yang merugi apabila diantara kita tidak saling mengingatkan dalam kesabaran, pentingnya menjaga iman, memperbanyak amal sholeh, menjaga waktu dan lainnya.

Kalangan dari sahabat Rasulullah Saw yang kita ambil sebagai contoh figur teladan lainnya selain Rasulullah Saw. Selain banyak berkorban untuk Islam, juga Allah Swt menyebutkannya di dalam Al-Qur'an, "Setiap rasul itu menyerukan kepada pengikut-pengikutnya, jadilah kamu manusia-manusia robbaniyin, manusia-manusia pengikut para rasul". Kisah dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Abdurrahman As Sulami tadi bagaimana sampai usia 85 tahun masih aktif sebagai guru aktif yang produktif. Profesi guru dijadikan pilihannya karena manfaatnya yang luar biasa, baik secara duniawi maupun ukhrowi.

Agar pilihan cerdas ini bisa memberikan manfaat maksimal, diperlukan Pertama landasan keikhlasan berupa panggilan jiwa, panggilan iman, ataupun Perintah Allah Swt. Agar benar-benar menjadikan kita menjadi manusia yang rabbaniyin, "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani (orang yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu mempelajarinya". (QS. Ali-Imran: 79)

Namun juga diperlukan cara untuk menjaga keikhlasan itu, yaitu dengan memanjatkan doa, "Bismillahi tawakaltu 'allallahi la haula wa la kuwwata illaa billaah". Ketika doa tersebut diucapkan, para malaikat langsung mengomentari, "Kamu dibimbing di jalan yang benar, lalu kamu diselamatkan oleh Allah Swt". Ada suatu peristiwa, ketika seorang teman mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya karena ada kewajiban menjadi imam shalat maghrib, di tengah perjalanan ia mengalami kecelakaan luar biasa hingga kendaraannya rusak parah. Namun yang terjadi ia tidak mengalami luka sedikitpun, "seperti ada yang menahannya saat terpental".

Kedua Ihsan, berbuat untuk Allah Swt dengan landasan keimanan. Ketiga adalah produktifitas hasil kerja, yaitu yang diwujudkan dengan tercapainya visi-misi PTDQM dengan mewujudkan peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur'an. Cita-cita kita bukan sekedar nilai kelulusan yang tinggi, walaupun itu memang juga diperlukan, melainkan bagaimana para santri kita menjadi calon juara, pemimpin, dan ulama. Dahulu Rasulullah Saw. ketika hijrah ke Madinah ada diantara orang musyrikin menghadang rasul, "Mana Rasulullah? Namun Rasulullah Saw menjanjikan "Nanti engkau akan memakai mahkota raja Persia". Jadi disaat terjepit, ternyata Rasulullah mampu memperlihatkan obsesi yang luar biasa. Oleh karena itu, kita bangun obsesi para santri, ketika obsesi mereka terbangun maka tumbuhlah semangat pada diri mereka.

Kembali saya ingatkan bahwa faktor ikhlas, ihsan, dan produktifitas. Hasil dari proses yang kita lakukan ini sangat signifikan terhadap semangat belajar, komitmen akhlak, komitmen ibadah dan lain-lainnya. Namun Bagaimana caranya? Yakni dengan memberikan qudwah (keteladanan). Inilah kunci sukses paling besar dalam mengajak dan berdakwah bil lisan. Itulah sesungguhnya yang menjadikan suksesnya Rasulullah Saw dalam mengemban tugas dakwah sehingga diabadikan oleh Allah Swt. laqod kaana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah (Rasulullah itu sebagai uswah). Jadi keinginan para sahabat mendekat dan meneladani beliau sesungguhnya itu sudah menjadi sifat fitrah seorang murid meniru perilaku gurunya. Itulah kenapa kecenderungan meniru pada anak itu ada. Oleh karenanya kita harus memberikan qudwah yang baik.

Surat Al-An'am ayat 83-90 menyebutkan sejumlah Rasul yang kesemuanya merupakan figur-figur teladan. Ulaa-ika alladziina hadaa allaahu fabihudaahumu iqtadih. (Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka). (Qs. Al-An'am: 90) Jadi Allah Swt memberikan mereka keteladanan, lalu diperintahkan-Nya agar keteladanan itu disosialisasikan kepada orang lain. Inilah kunci kesuksesan yang utama. Syeikh Jum'ah Amin menjadikan keteladanan sebagai eksistensi dakwah di dalam bukunya " Qowa'id Dakwah". Ia meletakkan satu kaedah di dalam dakwah "al-Qudwah Qobla ad-Dakwah" [Menunjukkan keteladanan sebelum berdakwah].

Itulah kenapa ketika mengajar jangan hanya mengandalkan kemampuan bicara, karena qona'ah seseorang terhadap apa yang dia dengar berbeda dengan Qona'ah apa yang dia lihat. Dulu semasa kuliah, ada seorang ustad bernama Syaikh Abdurahman. Setiap mengajar ia hanya menyampaikan materi selama 5 menit, tapi beliau mampu menyampaikan materi tersebut dengan jelas dan padat. Setelah itu ia katakan kepada para mahasiswa, "Ya ikhwan, ini buku sudah lama saya baca, buku bagus. Silahkan ambil jika mau". Dari keteladanan itulah yang akhirnya mampu memotivasi saya dan teman-teman kuliah waktu itu untuk terus membaca buku-buku tarbiyah. Inilah yang cenderung hilang dalam dakwah.

Keteladanan itu sendiri terbagi menjadi 5, yakni Satu, keteladanan dalam penampilan. Ketika Malaikat Jibril datang menghampiri Rasulullah mengenakan pakaian putih dan rapih. Karena sesungguhnya guru termudah itu adalah penampilan termasuk senyuman. Senyum yang lahir dari ekspresi hati yang ceria, bersih, dan tidak pendendam. Itulah upaya guru dalam pendekatan agar orang-orang bersimpati. Kedua, Qudwah Fii al ibadah, keteladanan kita dalam disiplin ibadah. Kecenderungan murid itu meniru baik dalam tampilan, ibadah, maupun gaya apa yang ia lihat. Karenanya jangan sampai seorang guru itu memerintahkan berbuat kebaikan tapi ia sendiri tidak melakukannya. Tiga, Qudwah Fii Akhlak, akhlak muamalah kita yang ruang lingkupnya sangat luas bisa diterapkan menyesuaikan dengan kemampuan murid. Empat, keteladanan dalam berkomunikasi. Bagaimana kita bisa menjadi qudwah itu tercermin dari tutur kata dan pembicaraan karena yang paling banyak di dengar dan dilihat dari seorang murid terhadap gurunya adalah melalui pembicaraan. Lima, Qudwah Fii Indhibath, keteladanan dalam kedisiplinan. Ada istilah yang kita pakai di tembok sekolah disini, "Disiplin is the king of success". Disiplin erat kaitannya dengan aturan, waktu dan evaluasi. Ada salah seorang guru madrasah tsanawiah terfavorit. Selain datang tepat waktu, setiap masuk ke ruang kelas beliau juga selalu mengeluarkan pertanyaan kepada siswanya, tentunya dengan menyediakan jawabannya pula. Itulah kemudian yang menjadikan siswanya selalu siap jika belajar dengan guru tersebut dikarenakan kedisiplinannya itu dihargai oleh murid-muridnya.

Ketika kita memberikan keteladanan itu maka peluang untuk dicontoh atau ditiru lebih besar. Suksesnya dakwah para sahabat dikatakan, "Kamu lihat orang-orang itu berbondong-bondong masuk Islam" dikarenakan lebih kepada keteladanan, Rasulullah Saw. bersabda, "Bukan golongan aku jika tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda". Ada kenikmatan tentang nilai yang dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitar kita bila prinsip ini diterapkan. Itulah kenapa keteladanan yang kita berikan harus setiap saat, bukan hanya ketika mengajar. Ketika satu orang saja mendapatkan hidayah berkat kita, tentu nilainya lebih baik dari bumi dan seisinya. Dan hasilnya pasti akan kembali kepada kita karena pada dasarnya keteladanan menjadi sebuah kebutuhan diri kita untuk membuktikan keislaman kita. Dan di sisi lain menjadi sarana efektif dalam proses mengajak dan mendapat kesuksesan dunia akhirat.

Walaupun kita masih jauh dari kata ideal, tapi kita harus tetap berusaha menjadi sosok teladan atau setidaknya berusaha mendekati sosok teladan itu. Satu-satunya sarana yang paling efektif dalam kesuksesan membentuk perilaku adalah qudwah hasanah. Karenanya diabadikan: fabihudahum iqtadih (Maka teladanilah hidayah yang sudah Allah berikan kepada mereka). Kita mulai munculkan berbagai aspek keteladaan itu pada diri kita dan lihat pengaruhnya bagi kita dan orang lain dalam waktu dekat. Keteladanan dalam tampilan, ibadah, akhlak, komunikasi, dan kedisiplinan. Dengan begitu artinya kita sudah menampilkan sosok keislaman yang diharapkan dicontoh oleh anak didik kita.

Cukup itu yang disampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan. Semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin…

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

FOTO GALERI DQM TERBARU