VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Seri Penjelasan (syarh) Buku Keutamaan Al-Qur`an | Memfungsikan Al-Qur`An Sebagai Kitab Hidayah (Part 3)


(39) Jika digambarkan, kondisi muttaqin (orang yang bertakwa), bukan sekedar semangat melaksanakan yang wajib, tapi juga melaksanakan yang sunnah. Mampu mengatur waktu dengan baik. Mengikuti hadyun robbani (petunjuk ilahi).

”Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (Q.S. Ad-Dzariyat [51]: 17-18)

(40) Lebih luas: apakah semua jenis muamalah sudah yuhallil ma hallalalloh (menghalalkan yang dihalalkan Allah) dan yuharrim ma harromah (mengharamkan apa yang diharamkannya)? Mengikuti hadyun nabawi (petunjuk nabi)

• Kehidupan sosial sebagai anggota masyarakat kepada tetangga dan lingkungan

• Yang bisa menjaga orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisan kita

• Apalagi sekarang tangan dan lisan mampu melukai tanpa kontak fisik atau teriak lantang, cukup dengan pencet remot atau keypad.

• Padahal kita sekarang cenderung hidup nafsi-nafsi (sendiri-sendiri), asyik dengan dunia sendiri walaupun berkumpul dalam suatu kerumunan.

(41) Apa langkah untuk memfungsikan Al-Qur`an sebagai kitab hidayah?

1. Dengan Membaca

a. Dari belum bisa menjadi bisa

b. Dari terbata-bata menjadi lancer

c. Dari lancar menjadi mahir

d. Dari tidak faham menjadi faham

Membaca bukan hanya merangkai kata, tapi juga penekanan tentang tartil. Tartil artinya ‘mengikuti’, namun bukan hanya mengikuti susunan hurup yang diaca tapi juga ‘mengikuti’ makna yang ada (terkandung) dibalik bacaan tersebut.

Contoh:

Al-hamdu artinya pujian. Dibaca, difahami lalu dilaksanakan dengan memuji Allah atas segala kebesaran dan kekuasaanya.

Aqimishalata artinya dirikanlah shalat. Dibaca, difahami lalu dilaksanakan dengan mengerjakan shalat dan memahami apa fungsi shalat seerti yang sudah disebut diatas.

(42) Apa langkah untuk memfungsikan Al-Qur`an sebagai kitab hidayah?

2. Dengan berusaha memahami makna dan kandungannya

Pada hakekatnya Al-Qur`an sangat jelas isinya (qur`an mubin), hanya dengan membaca teks asli dan terjemahnya orang bisa memahami apa yang ada dalam Al-Qur`an. kenapa bisa sederhana? Karena ia adalah kitab hidayah bagi manusia secara umum (hudan linnas), bukan untuk ulama, bukan untuk spesialis, bukan khusus untuk orang Arab.

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar [54]: 17)

Pada dasarnya, semua buku, semua kitab, bisa untuk difahami hanya dengan membaca saja. Sehingga, membaca adalah kunci untuk memahami, paling tidak dengan bantuan terjemah. Kecuali bagian-bagian tertentu yang memang memerlukan keahlian khusus para ulama.

(43) Prioritas Memahami:

Kita bisa mengerucutkan proses memahami Al-Qur`an menjadi sederhana, yaitu pemahaman terhadap ayat-ayat ayang ada hubungannya dengan aktivitas sehari-hari, seperti ibadah (terutama shalat) dan pekerjaan (kasab).

• Memahami ayat-ayat tentang ibadah (dalam hal ini termasuk akidah/keimanan) terutama shalat. Sebab menurut Imam As-Syafi’i memahami bacaan-bacaan dalam shalat adalah wajib (etika beribadah)

• Memahami ayat-ayat tentang pekerjaan: mengajar, bertani, berniaga, dan lain-lain. Bisa berbeda temanya antara satu orangdengan orang lain sesuai pekerjaan yang dijalani.

• Memahami ayat-ayat tentang berkeluarga

• Memahami ayat-ayat tentang bermasyarakat

(44) Memahami dengan sederhana:

Jadi, sebetulnya dari Al-Qur`an yang begitu tebal, hanya sedikit ayat-ayat yang bisa jadi prioritas dalam memahami yang ada kaitannya dengan aktivitas kita sehari-hari, yang berbeda antara satu orang dengan yang lain.

• Petani: lebih fokus memahami ayat-ayat tentang pertanian, muamalah seputar pertanian, jenis pekerjaan lain yang tidak dijalani bukan merupakan prioritas

• Pedagang: lebih fokus memahami ayat-ayat tentang perdagangan, muamalah seputar pertanian dan jenis pekerjaan lain yang tidak dijalani bukan merupakan prioritas

• Guru: lebih fokus memahami ayat-ayat tentang pendidikan, muamalah seputar pertanian, perdagangan dan jenis pekerjaan lain yang tidak dijalani bukan merupakan prioritas.

• Dan begitu seterusnya.

• Adapun memahami banyak ayat sampai menguasai detail, maka itu adalah kewajiban para ulama dan spesialis.

• Jika menggunakan pendekatan ini, maka siapapun bisa menjadikan dan memfungsikan Al-Qur`an sebagai kitab hidayah sesuai dengan konteks masing-masing, tidak menunggu faham bahasa Arab, mengerti ilmu tajwid, atau menanti menjelma sebagai ulama.

• Kaidah beragama adalah: yassiru wa wala tu`assiru (permudahlah dan jangan mempersulit), basyiru wala tunaffiruu (beri kabar gembiralah dan jangan membuat orang kabur)!

(45) Apa langkah untuk memfungsikan Al-Qur`an sebagai kitab hidayah?

3. Dengan merespon bacaan (respon qouli)

Saat membaca Al-Qur`an, harus ada ta’ammul (interaksi) anatara kita, Al-Qur`an dan Allah Swt.

• Ada pertanyaan? Jawab dengan “ya” atau “benar”

• Ada peringatan mendustakan? Jawab dengan “tidak”.

• Ada tahmid (pujian), ucapkanlah Alhamdulillah (segala puji bagi Allah).

• Ada tasbih (pensucian), ucapkanlah Subhanalloh (maha suci Allah).

• Ketika Surga disebut, berdoa’alah meminta Surga. Dan seterusnya.

• Banyak ayat tentang ghofur (maha pengampun) dan rahim (maha penyayang), mintalah yang sering, irhamna (sayangilah kami).

Walaupun di awal hanya mampu merespon dengan ucapan: menjawab, menolak, meminta, dll. Tidak masalah, semoga kelak bisa menjawab dengan amalan.

(46) Menikmati interaksi dengan Allah saat membaca Al-Qur`an.

Ada sahabat membaca ayat:

“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab Neraka.” (Q.S. At-Thuur [52]: 25-28)

Dia mengulang-ngulang berdo’a meminta, tidak cepat-cepat lanjut bacaannya ke ayat seterusnya. Nikmat sekali berdo’a seakan-akan sedang berkomunikasi dengan Allah.

• Kalau dalam bisnis, pasti ingin sekali ditelpon Menteri, apalagi ditelpon Presiden. Atau awalnya nyelipin kartu nama biar ditelpon, syukur-syukur proyek bisa ngalir.

• Kalau lagi ngobrol dengan Menteri, gak ada tuh dia ujug-ujug bilang: maaf nih, saya ada agenda rekanan, ga bisa nemenin lama, diladenin terus itu ngobrol dengan Menteri.

• Allah bertanya pada musa: wa maa tilka bi yaminika (apa itu yang ada di tangan kananmu)? Musa ga jawabpun Allah tahu itu yang dipegang Musa adalah “tongkat”. Tapi kenapa Musa malah menjawab dengan rinci, barangkali kita piker Musa bertele-tele: Ini adalah tongkatku (hiya ashoya), aku bertumpu padanya (atawakkau alaiha), aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku (ahusyu biha ‘ala ghonami), dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain (wa lia fiha maariba ukhro). (Thaha [20]: 17-18).

• Bukan bertele-tele, tapi ingin berlama-lama berkomunikasi dengan Allah, menikmati berinteraksi dengan-Nya. Menikmati kebersamaan.

• Itulah kenapa Rasulullah saw dan para sahabat sangat khusyu dan berlama-lama dalam shalat. Bukan enak sudah shalat! Tapi enak lagi shalat. Bukan enak sudah baca Al-Qur`an, tapi enak lagi baca Al-Qur`an.

• Walaupun baru sebatas ucapan (respon qouli) tapi kita berusaha merespon Al-Qur`an.

(47) Apa langkah untuk memfungsikan Al-Qur`an sebagai kitab hidayah?

Dengan respon amali. Inilah sejatinya yang kita harapkan darisetiap muslim. Mampu merespon makna Al-Qur`an secara amali, dengan perilaku, perbuatan, amal, aksi.

• Membaca ayat tentang rizki:

o Respon pertama: bedo’a: ya Allah, tambahkanlah rezekiku,

o Respon kedua: ia menginfakkan sebagian harta yang sudah dimiliki. Merespon ayat: wa anfiqu mimma rozaqnakum.

• Membaca ayat tentang Haji (wa atummul hajja…:

o Respon pertama: berdoa: ya Allah, aku ingin haji.

o Respon kedua: langsung berniat, karena bayar DP tidak ada duitnya. Tapi ini respon amali yang langsung dilaksanakan.

(48) • Ada cerita lucu tapi penuh berkah: seorang Jendral polisi pindah ke Bangka, mau selametan, sebelum maghrib datang ke Masjid, ketemu Marbot, beliau bilang, “Pak haji, saya mau selametan, tolong dikondisikan”. Marbotnya bilang: saya bukan haji. Jendral polisi nanya, emang belum haji ya, mau berangkat haji? Selang berapa waktu, marbot itu berangkat haji dihajikan seorang Jendral Polisi. Ini respon luar biasa, nagkep langsung tanpa menyangsikan kekuasaan Allah, haji tidak selalu masalah DP dan list pending, ketika Allah berkehendak, respon kita pun direspon dengan luar biasa, siapa kita, siapa dia, tapi melalui tangan-Nya, orang yang bukan sanak bukan saudara bisa menjadi wasilah. Maka, responlah bacaan Al-Qur`an, sebab bisa jadi takdir menunggu kita menangkap momentum.

Kadang-kadang, kita do’a aja ga mau. Padahal kata pepatah, do’a ibarat kayuhan pedal sepeda, semakin mendekatkan kita pada tujuan/jarak yang ingin dicapai.

(49) Respon amali Umar bin Khattab:

• Kita dalam kehidupan sehari-hari yakin banyak menghadapi problem. Satu contoh yang baik dalam menghadapi problem adalah khalifah Umar bin Khattab.

• Saking cinta Al-Qur`an, khatam (selesai) baca Surat Al-Baqarah saja langsung potong (menyembelih) Unta.

• Saat keluar Rumah: ia menginventarisir semua masalah yang ditemuinya di masyarakat. Saat pulang ke rumah, yang pertama kali ia buka adalah Al-Qur`an, apa solusi Al-Qur`an untuk semua masalah ia dapatkan pada hari tersebut (problem solving).

(50) Kita pun bisa muali merespon amali:

• problem solving seperti Umar, bisa kita lakukan dengan menjelaskan dan mensosialisakan nilai-nilai Al-Qur`an (penyuluhan). Bisa memulai dengan level dasar: mengajar iqro, qiroati dll. Agar orang bisa, tapi jangan berhenti saat orang lancer baca, lanjutkan sampai mereka faham maknanya, paling tidak dengan membaca terjemah, lalu setelah itu lanjutkan lagi sampai mereka bisa mengamalkannya sesuai dengan kriteria minimum yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari.

• Allah jelas sekali menyebut bahwa jihad besar adalah dengan Al-Qur`an

• Analogi: jadilah sopir bis, carilah penumpang 40 sampai 60 orang, ajari semua penumpang agar bisa menyetir mobil, jika semua berhasil, kelak 60 orang itu akan membawa 60 bis yang di dalam setiap bis ada 60 orang penumpang. Kalau 60 sopir itu mampu mengkader ulang seperti mereka dikader, bayangkan akumulasi respon amali akan sangat berlipat ganda yang akan menghasilkan arus kebaikan yang sangat besar.

• Ketika kita menyampaikan kritik, kontennya bukan negatif, tapi memberi solusi, mengajak untuk meningkat menjadi lebih baik.

• Khazanah Islam itu Bihaar (samudera maha luas) menjadi kewajiban kita untuk menyelam ke dasarnya, menemukan mutiara yang tidak bisa ditemukan dipermukaan lautan.

• Semoga kita mampu untuk segera memulai memposisikan Al-Qur`an sebagai kitab hidayah sesuai proporsi masing-masing.

Semoga bermanfaat.

FOTO GALERI DQM TERBARU