VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Seri Penjelasan (syarh) Buku Keutamaan Al-Qur`an | Memfungsikan Al-Qur`An Sebagai Kitab Hidayah (Part 2)


Seri Ke-1 Penjelasan (syarh) Buku Keutamaan Al-Qur`an

Judul kedua: Al-Qur`an Kitab Hidayah untuk seluruh manusia.

Memfungsikan Al-Qur`An Sebagai Kitab Hidayah

Oleh : KH. Abdul Hasib Hasan, Lc

LANJUTAN

(24) Infaq, zakat dan sedekah esensinya bukan pada objek: fuqoro dan masakin, tapi kebutuhan hidup kita. Dalam ayat dibawah, penyebutan dawil qurba (kerabat), yatama (anak yatim), masakin (orang miskin), ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan –musafir-), sailin (peminta-minta), fir Riqob (memerdekakan hamba sahaya), tidak dibatasi dengan huruf ‘au-atau’ (أو) yang artinya boleh memilih salah satu objek. Tapi dibatasi dengan huruf ‘wau-dan’ (و), artinya Infaq, dan sedekah diarahkan untuk dilakukan kepada semua objek penerima agar hasilnya menjadi paripurna, semakin banyak semakin baik. Menunjukan jati diri seorang muslim yang keimanan menjulang ke atas (vertical) dan memiliki kepekaan pada sesama yang mengakar dan melebar (horizontal). Manusia langit yang amalnya terasa oleh penduduk Bumi.

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa..” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 177)

(25) Lalu, betulkah Infaq, zakat dan sedekah merupakan kebutuhan hidup kita?

Atau sekedar pemanis bibir para da’i agar semua orang mau membantu faqir, miskin dan semua objek/penerima yang disebut di atas?

Mungkin kita lupa karena terlalu larut dalam urusan Dunia, melupakan dasar-dasar pengetahuan esensial penopang amalan unggulan, amalan yang bahkan orang yang akan mati pun ingin minta ditangguhkan ajalnya sekedar untuk melakukan infaq! Lalai itu awal dari bencana yang berkelanjutan…

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S. Al-Munafiqun [63]: 10)

(26) Berinfaqlah! Bukan karena melihat orang lain miskin yang membutuhkan uluran tangan, tapi karena kita yang membutuhkan kasih sayang Sang Pencipa, karena kita diperintahkan, karena perintah bermakna ibadah. Ketika sesuatu yang bernilai ibadah pasti ada pahala di dalamnya, kita haqqul yaqin membutuhkan pahala, sebagaimana kita juga ingin berdekatan dengan-Nya.

sedekah bukan sekedar membantu faqir, miskin dan semua objek/penerima saja, juga bukan hanya ditujukan kepada mereka yang memiliki kekayaan berlimpah, tapi kepada semua muslim, kaya dan msikin. Sebab sedekah bukan hanya mengeluarkan harta untuk berderma, mengeluarkan materi sebagai donasi, tapi sedekah memiliki fungsi lebih tinggi, yaitu pelindung dari siksa Neraka.

(27) Ketika ada sahabat yang mengeluh tidak memiliki apa-apa, Rasulullah tidak menjawab, ya sudahlah, tidak apa-apa, beliau tidak memberi toleransi, tapi memberi motivasi, berusahalah untuk shodaqoh walau usaha maksimal hanya mampu berbagi setengah butir kurma atau seteguk air penghilang dahaga.

“Takutlah terhadap Neraka, (lindungikah dirimu) walau dengan (sedekah) setengah kurma.” (H.R. Ibnu Hibban: Shohih)

(28) Sedekah adalah amal sosial yang efeknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. sedekah juga merupakan amal unggulan, Rasulullah secara pribadi merupakan orang yang sangat dermawan (pemurah), menjadi teladan dalam melakukan sedekah.

“Sesungguhnya Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dermawan (pemurah). Kedermawanannya lebih meningkat di Bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril menemuinya setiap malam untuk membaca dan mempelajari Al-Qur`an. Rasulullah paling dermawan dalam kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (H.R. Bukhori)

(29) Infaq dan sedekah membantu sesama yang efeknya akan kembali kepada pelakunya:

“Barangsiapa meringankan beban seorang muslim di Dunia, Allah akan meringankan bebannya di hari Kiamat. Barang siapa membantu mempermudah bagi orang yang kesulitan, Allah akan mempermudah urusannya di Dunia dan Akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib) di Dunia dan Akhirat. Allah akan menolong seorang hamba ketika ia mau untuk menolong saudaranya. Barangsiapa melalui jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju Surga. Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di satu rumah di antara Rumah-Rumah Allah, mereka membaca Kitabulloh dan mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketenangan, datang kepada mereka rahmat, datang kepada mereka Malaikat mengelilingi dan memuji, dan Allah Swt menyebut-nyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada bersama-Nya. Barang siapa lambat amalnya, tidak akan menjadi cepat dengan nasabnya.” (H.R. Muslim)

(30) Infaq dan sedekah memiliki pahala yang tiada habisnya:

“Ketika manusia mati, terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang berdo’a untuknya.” (H.R. Muslim)

(31) Pelaku Infaq dan sedekah mendapat do’a langsung dari Malaikat:

“Tidaklah berlalu suatu pagi bagi seorang hamba melainkan turun dua Malaikat, salah satu di antaranya berkata: ya Allah, berikanlah balasan bagi orang yang mau memberikan hartanya (infak). Malaikat satunya berkata: ya Allah, berikanlah balasan bagi orang yang mau menahan hartanya (tidak mau berinfak) dengan kehancuran.” (H.R. Bukhari)

(32) Ghoyatul Hayah (tujuan hidup kita) yaitu beribadah (dengan ikhlas), apakah sudah terimplementasi dalam setiap aspek kehidupan?

Bukan hanya ikhlas dalam berimabadah, tapi juga ikhlas dalam hidup keseharian?

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku..” (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 56)

(33) Kondisi masyarakat kita sekarang mirip zaman Nabi Musa, materialistis, memuja Qorun. Perlu ada ulama yang berteriak lantang, nyaring, atau agak kenceng! Agar mampu menyelamatkan ummat, agar tidak terbenam dalam kesalahan, atau paling tidak mengingatkan mereka bahwa mengikuti pola hidup Qorun itu keliru.

“Maka keluarlah dia (Karun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Maka Kami benamkan dia (Karun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 79-81)

(34) Fenomena masyarakat yang hidup materialistis ini juga terlihat pada masa awal dakwah Rasulullah Saw. ketika ada bisnis, Rasulullah saja ditinggal, padahal beliau adalah da’i paling baik dan dakwah beliau dakwah paling utama.

Tapi orientasi hidup materialistis bisa menutupi mata dan menyumbat telinga. Bahkan, ada orang yang mencari Dunia dengan urusan yang sejatinya merupakan urusan Akhirat! (semoga Allah mengampuni mereka).

“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,” dan Allah pemberi rezeki yang terbaik.” (Q.S. Al-Jum’ah [62]: 11)

(35) Lebih spesifik: Keseharian kita dalam hidup berkeluarga

Sudahkah kita menjadi figur teladan bagi keluarga?

Sudahkah kita membentengi keluarga kita agar memiliki pertahanan yang kuat?

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (Q.S. An-Nisa [4]: 9)

Hendaklah kita takut meninggalkan keluarga dan keturunan yang komplikasi dalam kelemahan: lemah iman, lemah akhlak, lemah tarbiyah, lemah ibadah, dan lemah harta.

Ayat ini, alih-alih dipake bener, malah dipake ga bener, jadi dalil KB, padahal kalau anak-anak itu aqwiya (kuat) dan jumlahnya banyak, pasti lebih baik daripada sedikit dan lemah!

(36) Kemaksiatan zaman sekarang itu terus menyerang, mampu menembus walau pintu dikunci dan pagar digembok! Masuk lewat remot, lewat HP. Maka perlu untuk menjaga anak-anak kita dari Neraka (wiqoyatul aulad minan naar). Tidak cukup hanya memastikan ketersediaan logistik keluarga: sandang, pangan dan papan tapi juga ruhnya. Gudang boleh penuh, pintunya boleh digembok, namun hama bisa masuk bukan hanya dengan membuka pintu yang tertutup. Maka, menurut Ali bin Abi Thalib, wiqoyah itu dengan pendidikan (tarbiyah).

(37) Kondisi riil seseorang adalah saat berada di tengah keluarganya. Alami dan tidak dibuat-buat, tidak bersolek, beda dengan orang yang pergi kondangan, bisa bersolek. Ketika mereka di tengah keluarga takut kepada Allah dan berperilaku baik dan beribadah kepadanya, maka kelak di Surga mereka bernostalgia, dan ini disebut dalam ayat secara eksplisit.

“Dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain saling bertegur sapa. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab Neraka. Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan, Maha Penyayang.” (Q.S. At-Thuur [52]: 25-28)

(38) Lebih spesifik: Keseharian kita dalam maisyah (aktivitas kerja)

Di siang hari tersedia banyak waktu untuk bekerja, malam hari gunakanlah untuk beribadah. Bukan malah nonton TV, atau lebih parah lagi, ditonton TV!

“Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.” (Q.S. Al-Muzzammil [73]: 7-8)

FOTO GALERI DQM TERBARU