VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Seri Penjelasan (Syarh) Buku Keutamaan Al-Qur'an | Memfungsikan Al-Qur'an Sebagai Kitab Hidayah (Part 1)


Seri Ke-1 Penjelasan (syarh) Buku Keutamaan Al-Qur`an

Judul kedua: Al-Qur`an Kitab Hidayah untuk seluruh manusia.

Memfungsikan Al-Qur`An Sebagai Kitab Hidayah

Oleh : KH. Abdul Hasib Hasan, Lc

(1) Secara kronologis historis, Al-Qur`an dan Ramadhan tidak bisa dipisahkan. Al-Qur`an pertama kali diturunkan di bulan Ramadhan, walau selanjutnya turun juga di bulan-bulan lain sepanjang 23 tahun. Secara eksplisit, hanya Ramadhan satu-satunya bulan yang disebut dalam Al-Qur`an, bulan-bulan lain hanya disebut secara umum, seperti al-asyrul al-hurum yaitu bulan-bulan yang diharamkan berperang (At-Taubah [9]: 5). Atau dengan redaksi as-syahrul al-harom, yang disebut di 3 tempat (Al-Baqarah [2]: 194), (Al-Baqarah [2]: 217) dan (Al-Maidah [5]: 2).

(2) Rasulullah tadarus (membaca dengan disimak di hadapan orang lain yang lebih mahir) bersama Malaikat Jibril. Kegiatan tadarus ini, sekarang mengalami penurunan makna, hanya dipahami membaca per individu tanpa ada orang mahir yang menyimak bacaan dan memperbaiki kekeliruan. Walaupun begitu, kegiatan membaca ini sudah baik, tinggal meningkatkan kualitasnya.

(3) Saat tiba bulan Ramadhan, kemudian kita menjadi lebih rajin membaca (tilawah) Al-Qur`an, maka itu sudah semestinya, wajar, sudah biasa, bukan sesuatu yang istimewa, seharusnya begitu, sebab Ramadhan adalah bulan diturunkan Al-Qur`an.

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)...” (Q.S. Al-Baqoroh [2]: 185)

(4) Yang fenomenal adalah jika membaca Al-Qur`an yang sudah marak dan semarak di bulan Ramadhan bisa membekas setelah Ramadhan usai. Sebab, Al-Qur`an sebagai kitab hidayah tidak bisa tereksplorasi hanya dengan dibaca per tahun, tanpa dipahami makna dan kandungannya.

(5) Saat Alloh memilih Ramadhan sebagai bulan diturunkan Al-Qur`an, Allah secara eksplisit juga menyebutkan tujuan diturunkan Al-Qur`an, yaitu sebagai ‘petunjuk’ (hudan linnas). Petunjuk ini pun diikuti penegasan (qorinah), yaitu petunjuk untuk seluruh manusia (linnas), bukan hanya petunjuk bagi ummat Islam (muslim). Maka, seluruh manusia membutuhkan petunjuk Al-Qur`an, siapapun mereka dan apapun agamanya: Yahudi, Kristen, Hindu, Budha.

(6) Contoh: Perintah untuk menegakkan ‘keadilan’ terdapat dalam Al-Qur`an. bukan muslim saja yang butuh!

Perintah untuk menghancurkan ‘kezaliman’ terdapat dalam Al-Qur`an. bukan muslim saja yang butuh!

Perintah untuk memakan makanan yang halal dan ‘baik’ terdapat dalam Al-Qur`an. bukan muslim saja yang butuh!

Perintah untuk mengatur semua ‘sistem hidup’ terdapat dalam Al-Qur`an. bukan muslim saja yang butuh!

Al-Qur`an, kitab ‘petunjuk bagi seluruh manusia’.

(7) Lalu, apakah kita sudah memfungsikan Al-Qur`an sebagai kitab ‘petunjuk’ seperti tujuan eksplisit saat Allah Swt. menurunkannya?

Ketika Al-Qur`an kita baca dengan semarak di bulan Ramadhan, apakah termasuk memposisikan Al-Qur`an sebagai kitab ‘petunjuk’?

(8) Jawabannya: “Ya, kita sudah memposisikan Al-Qur`an sebagai kitab ‘petunjuk, walaupun secara parsial atau global. Sebab, membaca Al-Qur`an adalah perintah Allah yang juga diturunkan secara spesifik: Iqro bismi robbik, Wa rottilil Qur`ana tartila, wa an atluwal Qur`an. Hanya saja, kita terkadang (kalau tidak mau disebut keseringan) terjebak dengan ‘kejar halaman’ dan ‘kejar khatam, walaupun tidak menafikan bahwa fenomena ini sudah baik. Karena dengan membaca dengan baik (tartil) bisa menangkap makna dan kandungan Al-Qur`an.

(9) Perlu penekanan dari para da’i, agar mengajak masyarakat untuk menempuh jalur ini. Jalur tidak biasa namun luar biasa: memahami, mentadabburi, mentafakkuri, agar mampu menangkap dan mengikat pesan tersurat dan tersirat dari ayat-ayat yang bisa menjadi bagian dari petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan manusia.

(10) Membaca adalah step awal, jangan berhenti di situ! Lakukan membaca dengan berulang-ulang. Setelah khatam dilanjut kembali dari awal samai khatam lagi. Bukan hanya di bulan Ramadhan tapi juga di bulan lainnya, al-hal al-murtahal, membaca yang berkelanjutan.

Jangan juga hanya asyik membaca, tapi juga harus lanjut menjadi asyik memahami, mentadabburi makna dan kandungannya (al-mahir bil qur`an) agar bisa bersama para Malaikat yang mulia (ma’as safaroh al-kirom al-baroroh).

(11) Apakah kita sudah memfungsikan Al-Qur`an sebagai kitab ‘petunjuk’ secara mendalam?

Apakah kita sudah mengimplementasikan Al-Qur`an dalam seluruh hidup, baik tampilan luar (shuriyan) maupun atmpilan dalam? Yuhallil halalah wa yuharrim haromah.

Jawabannya: Belum! Karena kita belum betul-betul memfungsikan nilai-nilai (qiyam) Al-Qur`an dalam sistem hidup, dalam seluruh aspek kehidupan. Bisa jadi rajin membaca Al-Qur`an bahkan sampai khatam berulang-ulang, namun yang haram masih oke dipake, yang syubhat masih terus berlanjut. Mengatakan lantang dalam pernyataan namun tetap mengingkari dalam implementasi! Lisan berulang mengucap: rodhitu billahi robban…, allohummarhamna bil qur`an, waj’alhuli imaman wa nuron wa ‘hudan’ wa rahmah…

(12) Lebih spesifik: Shalat.

Apakah sudah melakukan shalat? Belum/jarang/pernah/sering/selalu!

Apakah sudah menegakkan shalat?

Apakah sudah dilakukan dengan khusyu? Belum/jarang/pernah/sering/selalu!

Padahal, menurut Ibnu Abbas, khusyu adalah rukun shalat, seperti wukuf rukun haji, kalau tidak khusyu berarti shalatnya tidak sah.

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (yaitu) orang yang khusyu dalam shalatnya.” (Q.S. Al-Mu`minun [23]: 1-2)

(13) Apakah sudah dilakukan di awal waktu?

“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nisa [4]: 103)

(14) Apakah sudah dilakukan berjamaah di Masjid?

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku ingin sekali untuk menyuruh orang (mengumpulkan) kayu bakar, menyuruh untuk mendirikan shalat, mengumandangkan adzan, menyuruh orang untuk menjadi imam shalat, kemudian aku pergi menemui laki-laki (yang tidak shalat di Masjid) dan aku bakar rumah mereka. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai kalian mengetahui akan mendapat tulang binatang berdaging besar atau dua kaki binatang berdaging baik, pasti akan mendatangi shalat isya (dengan berjamaah).” (H.R. Bukhori)

“Shalat jamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan pahala dua puluh tujuh derajat.” (H.R. Bukhori)

(15) Apakah sudah dilakukan dengan pakaian terbaik?

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 31)

Ternyata, dalam hal yang kasat mata saja belum tegak, apa lagi dari sisi kualitas!

(16) Apakah dengan rajin shalat menambah ingat kepada Allah?

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Thaha [20]: 14)

(17) Apakah dengan rajin shalat perhatian kita bertambah, bahwa shalat itu penting? Menjadi harapan dan do’a kita. Seakan inilah do’a Nabi Ibrahim, seakan tidak ada do’a lain yang beliau miliki.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim [14]: 40)

(18) Apakah dengan rajin shalat berdampak pasca shalat, menjaga dari berbuat keji?

“Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-'Ankabut [29]: 45)

(19) Apakah dengan rajin shalat menyebabkan kebahagiaan?

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (Q.S. Al-Mu`minun [23]: 1-2)

(20) Apakah dengan rajin shalat membersihkan kotoran dari hati?

“Bagaimana menurut pendapat kalian jika ada sungai mengalir di depan pintu rumah kalian, kemudian kalian mandi disana lima kali dalam sehari, apakah akan tersisa kotoran dibadannya? Mereka menjawab: tidak akan tersisa kotoran di badannya. Beliau bersabda: begitu juga shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya kesalahan-kesalahan.” (Muttafaq ‘alaih)

(21) Apakah dengan rajin shalat menjadi pelebur dosa?

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan, penebus dosa yang dilakukan diantara jarak keduanya jika ia meninggalkan dosa besar.” (H.R. Muslim)

(22) Generasi dulu dikecam ketika shalat dalam keadaan mabuk (la taqrobus sholata wa antum sukaro), sehingga mereka sadar bahwa shalat sangat penting. Kita bisa memotret shalat: Alhamdulillah sudah (yuhafizhun), tapi apakah sudah sesuai yang diarahkan (khosyiu’un)?!

(23) Lebih spesifik: Infaq.

Banyak ayat menggandengkan infaq, zakat, sedekah dengan shalat. Sesuatu yang disandingkan dengan sesuatu yang sangat penting pasti menunjukan sesuatu yang juga tidak kalah penting.

Tapi pola hidup materialistis membentuk manusia menjauh dari kepekaan sosial terhadap sesama. Jangankan untuk melaksanakan yang sunnah, yang wajib saja banyak yang terlantar, seperti zakat. Fenomenanya masih sebatas melakukan kewajiban yang belum penuh, belum melakukannya sebagai kebutuhan.

FOTO GALERI DQM TERBARU