VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Kajian Tafsir : Wasiat Allah Swt dalam Surat Al-An'am Ayat 151-153


Sebelumnya telah kita bahas bahwa dalam Surat Al-An’am ayat 151-153 terdapat 10 wasiat Allah Swt yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, diantaranya  wasiat Pertama Tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Wasiat kedua : Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak. Wasiat Ketiga : Tidak membunuh anak-anak karena takut kemiskinan. Wasiat keempat : Tidak mendekati perbuatan-perbuatan yang keji (al faahisyah), baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Wasiat kelima : Tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Wasiat keenam : Tidak mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga ia dewasa. Wasiat ketujuh : Menyempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Wasiat kedelapan : Berkata adil kepada setiap orang (Dalam Menetapkan Hukum  diantara Mereka). Wasiat kesembilan : Memenuhi janji kepada Allah -ta’ala-. Wasiat kesepuluh : Mengikuti jalan Allah -ta’ala- yang lurus.

Dalam tiga ayat pada surat Al-An’am 151-153 memiliki kalimat yang sama, yakni “dzaalikum washshaakum bihi la'allakum ta'qiluun” yang artinya “Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu”. Namun terdapat perbedaan dari masing-masing akhir ayat itu. Dia akhir ayat 151, setelah menyebutkan wasiat Allah menyebutkan “supaya kamu memahaminya”. Di akhir ayat 152 menyebutkan “supaya kamu mengingatnya”. Kemudian pada ayat 153 menyebutkan “agar kamu bertakwa”.

Ketika kita mendengar kata wasiat, itu menjelaskan beberapa hal. Pertama, siapa yang berwasiat? Kedua, siapa yang menerima wasiat? Dan Ketiga, apa isi wasiat itu? Biasanya dalam kehidupan sehari-hari,  seseorang akan berwasiat kepada orang lain, jika orang tersebut memiliki suatu hubungan khusus yang membuat dirinya merasa perlu untuk menyampaikan suatu wasiat. Begitu juga isi wasiat itu, kebanyakan mengenai hal-hal yang sangat penting dan strategis. Karenanya mustahil jika tidak ada hubungan atau hal-hal strategis yang membuat seseorang memberikan suatu wasiat kepada orang lain. Seperti halnya orang-orang yang Allah berikan wasiat tidak lain adalah orang-orang yang beriman.

Dalam ketiga ayat tersebut, terdapat wasiat Allah yang melarang melakukan perbuatan syirik. Dari wasiat tersebut juga bisa dipahami sebagai perintah ibadah hanya kepada Allah Swt. Jadi ada dua makna yang terkandung, yaitu melaksanakan ketauhidan dan meninggalkan kemaksiatan.

Selanjutnya dalam ayat 153, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus”. Kata “Ini” mengacu kepada jalan-Ku. Ada yang mengatakan “ini” sama dengan Al-Qur’an, “ini” sama dengan Islam, ini sama dengan apa yang diwasiatkan (yang dilarang dan diperintahkan). Sebenarnya redaksinya berbeda, tapi memiliki maksud yang sama. Kalimat “Faittabi’uuhu” (maka ikutilah dia). Memiliki artian perintah kepada agar orang-orang yang beriman, selain mengikuti ajaran Islam, juga diperintahkan untuk bersatu dalam Islam. Selain itu juga, “Faittabi’uuhu” (maka ikutilah dia). Menunjukan kepada orang-orang yang beriman agar mengikuti ritual, ibadah, sistem, dan aturan secara keseluruhan bukan sebagian karena Islam itu universal. “Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya”. (QS. AL-baqarah: 208).

Keindahan Islam akan terpancar jika menjadi satu kesatuan, tidak menjadi parsial. Jadi “Faittabi’uuhu” diisyaratkan kepada kita sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah atau masing-masing. Islam yang kita ikuti juga syumul dalam semua aspeknya. Ada ungkapan yang sangat bagus dari seorang ulama besar Syaikh Muhammad ‘Abduh saat beliau diasingkan ke Paris (Perancis) kemudian giat berdakwah disana. Sebuah ungkapan yang begitu terkenal di seantro dunia Islam, dan ungkapan itu masih relevan hingga sekarang, yaitu “al-Islamu mahjubun bil muslimin” (Islam tertutup oleh umat Islam).

Ungkapan itu keluar usai Syaikh Muhammad Abduh menerima ungkapan kekecewaan murid-muridnya yang jauh-jauh datang dari Paris hanya ingin bertemu sang guru dan menemukan peradaban Islam di tanah kelahiran sang guru yang dikiranya keindahannya melebihi Negara asalnya (Perancis). Namun ternyata dugaan itu salah. Ketika kapal yang mereka tumpangi merapat ke pelabuhan Port Said, murid-murid Syaikh Muhammad Abduh dari Paris itu kaget menyaksikan pelabuhan Port Said yang semerawut. Terlihat jelas orang-orang Mesir yang tidak bisa tertib, kata-kata yang keras dan kasar, serta kebersihan yang tidak dijaga. Mereka mencoba menghibur diri. Mungkin kota pelabuhan bisa dimaklumi. Namun sesampainya di Kairo, tak jauh dari Al-Azhar University mereka benar-benar kaget dan kecewa. Mereka menyaksikan seorang laki-laki berjubah buang air kecil menghadap tembok. “Mana adab-adab Islami yang indah itu? Gambaran keindahan peradaban Islam seperti yang disampaikan sang guru tidak mereka jumpai.

Itulah yang menyebabkan Islam itu tertutup keindahannya. Padahal Islam menjunjung tinggi keindahan. Islam menghargai ilmu, tapi banyak orang Islam yang terbelakang. Jadi yang membuat Islam menjadi tidak indah disebabkan oleh orang Islam itu sendiri, artinya orang Islam itu tidak mempraktekkan nilai-nilai Islam itu. Jadi jangan salah jika orang kelas atas lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah elit. Itu menjadi realitas saat ini akibat sebagian kita yang tidak menjungjung tinggi nilai-nilai Islam. Untuk itulah kenapa kita harus mengikuti seluruhnya, tidak sebagaiannya. Hal itu kita lakukan demi mengembalikan pesona atau keindahan Islam dan membuat orang lain tertarik kepada Islam. Dan itu harus kita mulai dari diri sendiri.

Kemudian lanjutan ayat dalam Surat Al-An’am ayat 153, Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)”. Seorang muslim harus linear, tidak boleh liberal karena Islam yang sudah sempurna, karenanya jangan ditambahkan lagi. Karena nantinya kalian akan bercerai berai dari jalan yang lurus itu. Suatu ketika Rasulullah Saw di padang pasir menggambar sebuah garis lurus, kemudian Beliau berkata; ini adalah jalan Allah. Setelah itu, Rasul kembali menggambar beberapa garis melenceng, disebelah kanan dan disebelah kiri garis lurus tersebut. Beliau berkata; ini adalah jalan-jalan melenceng; tidak satupun dari jalan tersebut, melainkan padanya ada syaithan yang senantiasa memanggil. Rasulullah mengingatkan agar mengikuti ajaran Islam yang lurus dan berjamaah. Janganlah mengikuti jalan yang lain sebab akan mengakibatkan perpecahan dan permusuhan.

Ketiga ayat ini berisikan tentang wasiat-wasiat Allah. Yang perlu kita ingat bahwa sekalipun begitu jelas wasiat ini dimana di dalamnya terdapat larangan dan perintah, lantas tidak otomatis membuat orang-orang melaksanakannya. Karenanya berbuat baiklah agar kamu beruntung. Sasaran dari wasiat ini adalah menjadikan kalian orang-orang menjadi bertakwa dan sebagainya. Karenanya pahamilah secara mendalam wasiat tersebut. Pemahaman yang mendalam akan mengkristal menjadi suatu keyakinan. Ini harus ditingkatkan agar bisa dipahami, dan yang membuat kita merasa ringan untuk melaksanakannya adalah apabila kita sudah meyakininya. Sebab sesuatu yang kita yakini itu nantinya menjadi ringan dilaksanakan. Bagaimana pengetahuan itu semakin dalam dipahami, lalu mengkristal, menguat maka jadilah suatu keyakinan.

Jika sudah menjadi keyakinan, maka orang akan mudah mengikuti keyakinannya itu. Seseorang akan menundukkan hatinya pada apa yang ia yakini. Dan yang membuat kita akhirnya tunduk adalah hati kita. Maka dari itu, jangan sampai berdakwah menyakiti hati seseorang. Oleh sebab itu, tingkatkan ilmu kalian untuk meningkatkan keyakinan kalian. Kedua seseorang akan mengikuti jika terdapat figur yang mencontohkan. Lalu Ketiga, karena adanya arus yang dilakukan oleh banyak orang karena apabila sudah dilakukan secara beramai-ramai kemudian menjadi suatu arus, maka orang lain akan mengikutinya. Itulah faktor-faktor yang menjadikan seseorang mengikuti jalan yang lurus, yakni ajaran Islam.

Kajian Tafsir oleh : KH. Abdul Hasib Hasan, Lc

FOTO GALERI DQM TERBARU