VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Artikel Dr. Abdul Ghani, M.Hum | Hidup Menjadi Indah dengan Syukur


Tatkala kita bangun di pagi hari, Islam mengajarkan agar kita mengucapkan doa yang dimulai dari kata “Alhamdulillah”. Kalimat pendek sederhana yang memiliki sejuta makna. Dari risalah doa tersebut, Islam hendak membimbing umatnya agar lafaz atau kata yang pertama kali kita ucapkan setiap pagi adalah kalimat “Alhamdulillah”.

Betapa tidak! Hidup kita bergelimang anugerah dan nikmat. Nikmat sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya (at-Tin: 4). Nikmat privilese bahwa ciptaan Allah yang lain dihadirkan dalam rangka memberi kemaslahatan untuk manusia (everything is created on behalf of human’s needs), sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah: 29.

Puncak dari seluruh anugerah tersebut adalah ketika seseorang mendapatkan hidayah Allah. Bisa dibayangkan, jika Rasulullah yang sangat mulia dan dekat kepada Allah saja tidak memiliki otoritas untuk memberikan hidayah kepada orang yang dicintainya, hal ini menunjukkan bahwa anugerah ini tidak ada duanya. Kita ini siapa di hadapan Allah dibandingkan Rasulullah? Jangankan di hadapan Rasulullah, untuk bisa meniru orang-orang sholih dan ikhlas di sekitar kita saja masih sangat jauh arang dari panggangnya.

Kebesaran dan keagungan anugerah hidayah, menjadikan nikmat limpahan harta dunia dalam jumlah milyaran dan trilyunan menjadi tidak lebih dari kumpulan kertas sampah yang sia-sia. Gedung-gedung menjulang tinggi dan rangkaian acara gegap-gempita dunia yang spektakuler, bertekuk-lutut kehilangan maknanya tatkala dihadapkan oleh anugerah hidayah yang terlimpahkan pada diri seseorang.

Menurut Doraiswamy dan McClintock (2015), rasa syukur memberikan pengaruh signifikan pada proses penyembuhan penyakit jantung sebagaimana menyehatkan kualitas spiritual seseorang. Ada manfaat yang berdimensi fisik dan psikis dari aktivitas syukur yang dilakukan setiap orang. Ungkapan senada dikemukakan oleh Paul J. Mils. Menurutnya, saat seseorang mensyukuri anugerah yang diterima, maka ia akan lebih terkoneksi dengan dirinya dan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Berbeda dengan orang yang stress, maka ia akan merasa teralienasi dari dirinya dan orang-orang sekitarnya. Robert A. Emmons, seorang profesor Psikologi di USA menyebutkan bahwa kemampuan seseorang dalam mensyukuri nikmat akan menurunkan tekanan darah, meningkatakan fungsi imunitas tubuh dan memfasilitasi istirahat yang lebih nyenyak.

Apa yang bisa dilakukan untuk memunculkan rasa syukur dalam diri kita?

Pertama, menghitung nikmat Allah. Dalam surat an-Nahl: 18, Allah menyebutkan bahwa jika manusia hendak menghitung nikmat Allah, maka ia tidak akam mampu menghitungnya. Ayat tersebut tidak dipahami sebagai larangan menghitung nikmat Allah, akan tetapi lebih kepada betapa melimpah ruah dan terbentang luasnya nikmat Allah. Ketika kesadaran akan rasa syukur pudar, maka justru yang perlu dilakukan adalah menghitung-hitung nikmat yang sudah Allah anugerahkan kepada kita

Kedua, mengingat jasa-jasa orang lain. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Hadits ini memerintahkan agar setiap kita hendaknya mengingat orang-orang yang memiliki jasa besar dalam hidup. Mengingat orang yang berjasa dalam hidup adalah bagian dari cara menumbuh-suburkan rasa syukur.

Ketiga, menyebutkan anugerah Allah. Dalam surat adh-Dhuha ayat 11 disebutkan bahwa hendaknya orang-orang yang menerima anugerah Allah, selalu menyebutkan nikmat-nikmat yang sudah diterima. Baik menyebutkan di kala sendiri sebagai bentuk pengakuan akan anugerah Allah dan selalu mengingatnya, maupun di hadapan manusia sebagai dorongan untuk lebih banyak berbuat baik dengan hartanya dan terhindar dari sifat bakhil.

Sungguh indah perjalanan hidup dengan mengalami dan merasakan setiap hembusan nafas yang kita keluarkan. Betapa nikmatnya hidup dengan mensyukuri butir nasi dan tegukan air yang masuk ke dalam tubuh. Alangkah mempesonanya hidup dengan menyelami setiap kedipan mata yang secara otomatis bergerak saat ada yang akan menyentuhnya. Duhai kasih dan sayangnya Allah kepada kita, atas setiap detak jantung yang tetap bergerak meskipun si empunya diri sedang tertidur lelap. Semoga syukur menjadi gaya hidup harian kita, saat membuka mata pertama kali di waktu fajar!

Penulis : Dr. Abdul Ghoni, M.Hum (Rektor STIU Darul Quran)

FOTO GALERI DQM TERBARU