VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Feature Dr. Abdul Ghani, M.Hum | Ramadhan 1438 H di Athena


athena

Bogor (30/5/2017) - Sebuah anugerah yang tiada tara bagi seorang muslim Indonesia untuk bisa menikmati anugerah Ramadhan di Athena, Yunani. Salah satu kota sumber peradaban dunia. Tanggal 27 Mei 2017 pukul 21.00, penulis berkesempatan untuk berkunjung ke Athena yang difasilitasi oleh Cordofa Dompet Dhuafa dan KBRI Yunani.

Pada Ramadhan kali ini, negara-negara di Eropa secara umum sudah mulai memasuki musim panas, walaupun sesekali masih terjadi hujan. Sebagai mana fenomena tahunan musim panas, maka ada perbedaan yang signifikan antara durasi waktu siang dan waktu malam. Jika dihitung malam dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam, maka terhitung rentang waktunya sekitar 16 jam.

Begitulah gambaran waktu umat Islam menjalankan ibadah puasa, dimulai dari waktu Subuh pada jam 4.16 menit hingga waktu masuk waktu Maghrib pada jam 20.29 menit. Sementara waktu Isya baru mulai masuk pada jam 22.20 menit, sehingga diperkirakan umat Islam di Athena baru menyelesaikan shalat Tarawih sekitar pukul 23.30 menit. Dengan demikian ada waktu istirahat untuk tidur di malam hari sekitar 3 atau 3 ½ jam.

Agak sedikit berbeda dengan Indonesia yang standar waktu berpuasanya sekitar 13 ½ jam, dan rentang waktu tidur malam yang dimungkinkan antara jam 21.30 sampai 03.30 sekitar waktu 8 jam.

Athena merupakan sebuah kota di mana umat Islam adalah kelompok minoritas. Di antara kelompok minoritas Muslim di sana, ada sekitar 200 WNI Muslim yang tinggal di Athena. Syukur alhamdulillah, pada hari kedua puasa, Ahad 28 Mei 2017, KBRI mengundang seluruh WNI di Athena untuk mengikuti acara “Buka Puasa dan Tarawih Bersama”. Acara tersebut merupakan agenda tahunan yang disebut dengan kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan. Dari sekitar 200 WNI Muslim, ada sekitar 80 WNI Muslim yang hadir pada acara buka puasa perdana Ramadhan 1438 H ini.

Acara buka puasa dan Tarawih bersama, bagi KBRI merupakan bagian dari program pembinaan masyarakat Indonesia. John Admiral sebagai penanggung jawab program sosial, budaya, dan politik KBRI, merasakan betapa besar urgensinya acara berbuka puasa bersama yang di antara salah satu agendanya adalah pemberian taushiyah agama.

Selain itu, pak Yovi, sebagai penangung jawab kedutaan sementara sebelum datangnya Dubes Yunani yang baru, menyebutkan bahwa program buka puasa bersama juga menjadi ajang pengingat agar WNI yang memiliki aktivitas di Yunani terus-menerus menjaga image baik yang selama ini sudah ada, bahwa orang Indonesia adalah orang yang sangat baik sehingga lebih disukai oleh masyarakat Greek.

Agak berbeda keadaan di negara-negara lain, sikap baik orang Indonesia di Athena Yunani, tidak bertepuk sebelah tangan. Masyarakat Greek pada umumnya memiliki karakter yang juga sangat baik. Hal ini tidak terlepas dari agama Kristen Ortodoks yang menjadi keyakinan mayoritas mereka. Lebih lanjut menurut Ibu Ratih, sebagai salah seorang istri dari staff KBRI di Athena, masyarakat Greek memiliki kebiasaan keagamaan yang hampir sama dengan masyarakat Muslim.

Ia menyebutkan bahwa banyak makanan dan minuman yang diharamkan dalam Islam juga menjadi pantangan bagi orang Greek. Minuman keras, daging babi dan daging anjing, adalah di antara makanan dan minuman yang juga dilarang untuk dikonsumsi dalam agama Kristen Ortodoks. Selain itu, penggunaan penutup kepala (jilbab) juga menjadi bagian dari busana yang lazim dipakai oleh kaum perempuan Greek.

Selain itu, kebiasaan mengucapkan sesuatu (di dalam Islam disebut dengan zikir), dan meluangkan waktu untuk ibadah (dalam Islam disebut dengan Shalat) juga menjadi hal yang harus mereka jalankan sehari-hari.

Begitu kentalnya hubungan timbal balik antara WNI Muslim dan Masyarakat Greek berbuah cerita-cerita indah yang menarik untuk dicatat sebagai kisahtoleransi antara umat beragama yang mengharukan. Ada fakta yang dikemukakan oleh Bu Sami, bahwa di tempat ia bekerja, sang majikan selalu mengingatkan untuk segera melaksanakan shalat ketika adzan berkumandang. Hal yang lebih luar biasa lagi, bahwa ada di antara pekerja yang kemudian difasilitasi untuk dapat melaksanakan ibadah haji ke Mekkah dengan seluruh pembiayaan dan perbekalan yang ditanggung oleh majikan.

Meskipun Yunani sedang dilanda krisis ekonomi, akan tetapi secara umum bagi WNI Muslim, bekerja di Athena tetap menjadi tawaran yang cukup menggembirakan. Di samping sikap mereka yang baik, juga karena besarnya penghasilan dari tugas rumah tangga yang dilakukan, mereka mendapatkan penghasilan setiap bulan antara 9 sampai 10,5 juta rupiah (600 atau 700 Euro).

Satu hal yang penting untuk bisa dilakukan dan diupayakan bagi WNI Muslim di Athena adalah bagaimana agar mereka tetap komitmen dengan keislamannya. Fakta sosial sebagai kelompok minoritas tidak sampai membuat mereka larut dengan kondisi yang ada, sehingga dikhawatirkan dapat mengikis keyakinan mereka dan tidak mustahil mereka berangkat ke Indonesia dengan keimanan kepada Allah akan tetapi kemudian kembali ke kampung halaman sudah tidak berbekal anugerah keimanan tersebut.

Dari fenomena ini, maka kegiatan dakwah Islamiyah perlu terus dilakukan dalam rangka menjaga keimanan WNI Muslim di Athena. Upaya internal sudah mulai dilakukan di KBRI dengan membentuk organisasi Rohis (Kerohanian Islam) sejak tahun 1990-an, dengan agenda rutin pengajian bulanan yang diselenggarakan di Aula KBRI. Kemudian di setiap bulan Ramadhan, KBRI dan Rohis melakukan kerjasama dengan Cordofa Dompet Dhuafa dengan mendatangkan Da’i dari Indonesia, sehingga aktivitas kerohanian di bulan Ramadhan dapat lebih massif dilakukan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Semoga Allah senantiasa melindungi hamba-hamba-Nya di berbagai belahan dunia agar bisa tetap istiqamah di jalan yang benar.

Penulis : Dr. Abdul Ghoni, M.Hum (Rektor STIU Darul Quran)

Sumber : http://www.dakwatuna.com

FOTO GALERI DQM TERBARU