VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Mengirim Lamaran Kerja Yang Menarik, Bag - 1


1

(Bogor, 13/1/2017) - Melamar pekerjaan gampang-gampang susah. Maksudnya, bisa gampang atau juga bisa susah :). Melamar pekerjaan tidak sekedar memasukan berkas lamaran kemudian menunggu panggilan. Tapi, lamaran harus bisa menjadi wakil pelamar satu-satunya, menggambarkan kepribadian pelamar secara utuh (yuabbir ‘an nafsihi), terutama keunggulan yang dimiliki sehingga bisa menembus HRD, agar lamaran yang masuk tidak sekedar mampir, memenuhi laci arsip lalu dimusnahkan, mengenaskan...

Kelemahan lamaran kerja yang masuk (setidaknya kepada kami) ada pada kelemahan visi dan misi pelamar sendiri. Beberapa lamaran yang masuk hanya menyampaikan lamaran umum, menyerahkan curriculum vitae dan melampirkan scan berkas. Padahal, kekuatan lamaran juga ada pada eksplorasi kapasitas pribadi, skill/kemampuan tambahan, dan pengalaman kerja.

Menyikapi hal ini, kami ingin berbagi sudut pandang dengan para pelamar. Paling tidak, pelamar bisa mengetahui hal-hal yang bisa membuat lamarannya lolos, mendapat panggilan, dan lebih jauh bisa diterima. Apa yang akan kami paparkan tentu saja bisa berbeda atau serupa dengan HRD-HRD di lembaga lain. Setidaknya, ini yang kami inginkan dari para pelamar yang mengirim lamaran kepada kami.

Selanjutnya, yang menentukan diterima atau tidak adalah, “apakah data di lamaran kerja sesuai dengan kenyataan saat proses test berlangsung?”. jika ya, selamat Anda bisa menembus HRD. Jika tidak, mohon jangan mengulangi kesalahan menulis data berbeda antara lamaran dan kenyataan!

Sudut Pandang Pelamar

Dalam sub bab ini, kami ingin menyampaikan kelemahan lamaran dan sekaligus alternatif solusinya, sebab bisa jadi ada solusi lain yang lebih pas dan jitu yang sudah disampaikan para HRD di tempat lain. Berikut adalah hal-hal yang sebaiknya diperhatikan para pelamar:

1.  Menyerahkan Lamaran dan Menunggu Panggilan.

Barangkali, mayoritas pelamar hanya fokus pada ‘menyerahkan lamaran’ kemudian ‘menunggu panggilan’, melupakan hal-hal penting dalam lamaran yang seharusnya menjadi perhatian besar, apa yang seharusnya menjadi penentu untuk diterima luput dan tidak tersampaikan. Mendapat panggilan atau tidak, diterima atau tidak, bergabung atau tidak dengan suatu perusahaan/lembaga, kunci pertamanya adalah isi lamaran yang dikirimkan. Dari mana HRD bisa menilai pelamar jika lamaran tidak menggambarkan kapasitas pelamar?

2. Menguasai Informasi tentang Lembaga/Perusahaan yang Dituju.

Pelamar seringkali lemah dalam menguasai informasi dan wawasan tentang lembaga/perusahaan yang dituju. Padahal, penguasaan tentang informasi ini merupakan hal yang tidak kalah penting dari isi lamaran. Lamaran Anda bisa langsung mental saat terjadi kesalahan tulis (Typo) atau kesalahan informasi.

Contoh kasus; Anda melamar ke Lembaga kami, namun menulis nama lembaga lain, Kami bertempat di Suatu daerah tapi Anda menyebutkan daerah lain yang bukan tempat kami. Atau Anda tidak memahami detail tujuan, kami memiliki unit yang banyak; PAUD, SDIT, SMPIT, SMAIT, dan Sekolah Tinggi. Kemudian, Anda hanya menyampaikan melamar di lembaga kami, terlalu umum.

Contoh lain: “Besar harapan saya untuk bisa diterima bekerja di Perusahaan yang Bapak/Ibu Pimpin”. Sudah jelas ini Lembaga Pendidikan bukan Perusahaan, kenapa menggunakan nama Perusahaan? Standar harus digunakan namun detail pun harus diperhatikan.

Apa bukti tesis ini? Materi test online ‘Profesional Job Psyco Interview’ yang kami berikan, pada point pertanyaan, “Apa yang Anda Ketahui tentang Lembaga Pendidikan Kami?” Sering terisi jawaban singkat satu kalimat, seperti, “Lembaga Pendidikan yang Fokus Pada Pendidikan Islami dan Al-Qur`an” atau  “Lembaga Pendidikan berbasis Al-Qur`an”.  Ini bukan jawaban deskriptif yang kami inginkan, dari nama semua bisa menebak jawaban yang sama. Jika jawabannya seperti ini berarti Anda belum menggali informasi tentang lembaga kami, tak kenal maka tak sayang, jika Anda tidak menyayangi lembaga kami, tidak ada alasan bagi kami menyayangi Anda. Nah lho!

3. Menentukan Lamaran Secara Spesifik

Contoh kasus: Lembaga kami jika dikemas dengan nama Pesantren Terpadu, maka mencakup tiga unit: Guru Kelas di Sekolah (SMPIT/SMAIT), Pembina Asrama dan Guru Al-Qur`an. Dengan kompleksitas ini, kemudian Anda hanya melamar untuk menjadi guru di Lembaga kami. Mau menjadi guru apa? Di unit mana? Mapel apa? Tidak ada kepastian. Menghadapi lamaran seperti ini, tentu HRD langsung memasukan lamaran Anda ke laci arsip! Mungkin suatu saat dibutuhkan, atau menunggu untuk dimusnahkan. Pengetahuan tentang detail lembaga/perusahaan yang dituju sangat penting untuk diperhatian.

4. Menyebutkan Spesialisasi atau Kecenderungan

Anda boleh sepuluh kali menyebut jurusan saat Anda kuliah, tapi jika Anda tidak menyampaikan lamaran spesifik (guru mapel tertentu, admin, dst.) maka lamaran Anda tidak akan mendapat respon. HRD tentu saja tidak akan mengambil resiko menerima pelamar dengan kemampuan tidak sfesifik. Anda boleh berkata, “saya bisa menjadi guru apa saja, yang penting sesuai dengan jurusan saya”, bagi HRD kalimat ini memberi sinyal penolakan, Anda hanya akan menambah beban kami untuk menguji coba Anda di beberapa mapel, di beberapa posisi, dari pada melakukan ini lebih baik Anda kami kesampingkan.

Kami lebih menghargai ungkapan, “Saya lulusan jurusan …, namun hanya menguasai mapel Bahasa Arab (contoh) karena latar belakang dari Pesantren.” atau, “… lebih memilih menjadi admin karena pengalaman bertahun-tahun “ dst. HRD dengan bahasa seperti ini mendapat calon guru Bahasa Arab dan calon admin yang akan dipertimbangkan walau latar belakang mereka tidak sesuai, bukan mendapat calon tidak jelas yang harus dipetakan. Ini uji kelayakan bukan tawaran menerima hibah yang siap angkut lalu diberdayakan kemudian.

5. Menyampaikan Keunggulan Pribadi

Keunggulan pribadi bisa berasal dari spesialisasi sesuai jurusan saat kuliah. Atau kemampuan lain yang mendukung keunggulan berdasarkan kecenderungan, hobi, pengalaman dan lain-lain. Anda jurusan Matematika, pasti menguasai Matematika. Namun bisa jadi Anda juga menguasai Ulum Syar’i (pelajaran agama) dengan baik (karena mondok) dan seterusnya.

Bagian inilah yang sangat lemah dalam lamaran kerja (terutama yang masuk ke meja kami). Jarang pelamar berani menulis kalimat aktif, “Keunggulan saya ada pada bidang… saya menguasai bahasa Asing dengan aktif…, Saya bisa melakukan …, kekuatan saya ada pada sisi…” dst.

Bahkan, pada saat wawancara pun terulang, “Apakah Anda menguasai …? jawabannya mengambang, “menguasai sedikit/tidak begitu/dulu pernah” dst. Sebaiknya, semua hal yang ada hubungannya dengan lamaran yang dituju dipersiapkan dengan baik, agar membantu meningkatkan point penilaian.

Ungkapan dengan nada mengharap simpati dan empati “Saya ingin mengajar di Lembaga ini agar bisa belajar agama, agar bisa menjaga pergaulan, agar bisa menghafal Al-Qur`an, dst…”, tidak pas diucapkan seorang pelamar. Sampaikan keunggulan yang bisa Anda jadikan kontribusi maksimal, agar Anda bisa beramal optimal, adapun side effect Anda mendapat nilai plus dan religius dari lembaga kami setelah bergabung, bukan merupakan alasan yang menambah kekuatan untuk bisa diterima, bahkan bisa menjadi bumerang bahwa Anda mau bergabung bersama kami karena tendensi, lari dari ini dan ingin ini, bisa jadi berkas lamaran Anda berlabuh di laci!

6. Kesiapan memberi kontribusi (apa keuntungan kami dengan menerima Anda bergabung?)

Pertanyaan ini pun, jawabannya sering kali merupakan bagian yang ‘terlalu’ lemah dari seorang pelamar saat sesi wawancara. Bahkan dalam lamaran seringkali tidak tercantum. Hanya ingin bergabung tanpa kejelasan niat kontribusi, tentu tidak fair, lebih baik kami abaikan, dari pada nanti jadi beban tergusur-gusur, merasa dibebani untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dikerjakan secara otomatis sebagai tanggung jawab moral. Pada akhirnya, yang begini, untuk diajak aktualisasi diripun seringkali mandeg dengan segudang alasan. Bukti tesis ini, materi test online ‘Profesional Job Psyco Interview’ yang kami berikan, pada point pertanyaan, “Apa keuntungan Lembaga kami dengan memperkerjakan Anda ?” selalu mendapat jawaban mengambang atau bahkan tidak berisi jawaban sama sekali.

Bersambung ke bag - 2…

 

(Penulis: A.R. Hermansyah)

FOTO GALERI DQM TERBARU