VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Artikel | Membangun Persepsi Guru


hari-guru-edit

Bogor (25/11/016) - Kenapa harus menjadi guru? Mungkin pertanyaan tersebut adalah hal lumrah yang sering kita dengar dari orang lain atau bahkan kita sendiri yang bertanya kepada diri kita sendiri. Pertanyaan tersebut tentu punya banyak makna, tapi yang terpenting adalah “sudahkah kita meyakini makna tersebut?”. Oleh karenanya persepsi yang dibangun dari pertanyaan tersebut juga mempengaruhi minat dan kualitas masyarakat untuk menjadi guru. Terlebih lagi menjadi guru yang dibutuhkan zaman. Seperti kalimat yang sering kita dengar, setiap orang ada masanya dan setiap masa punya kebutuhannya. Apakah kita (guru) sudah sesuai dengan kebutuhan zaman kita?.

Secara jumlah, guru di negeri ini ternyata cukup banyak, walaupun realitanya mencari guru tetap saja sulit. Sebagaimana data yang direlease oleh BPS pada tahun 2014 bahwa untuk jenjang SD, guru dan siswa memiliki rasio 1: 17, sedangkan untuk SMA memiliki rasio 1:15. Data lain yang mendukung yaitu dari jumlah PNS yang mencapai 4,3 juta orang pada tahun 2014 ternyata 40,35% nya adalah guru. Dengan berbagai data tersebut, sudah cukupkah guru di negeri kita?. Jika sudah cukup, apakah kualitasnya sesuai dengan kebutuhan zamannya?.

Disisi yang berbeda, banyak informasi dan berita yang terdengar seputar bonus demografi Indonesia. Apa itu bonus demografi? Bonus demografi adalah peristiwa dimana suatu Negara memiliki penduduk usia produktif dalam jumlah mayoritas (lebih dari 2:1). Artinya dua orang penduduk usia produktif (15-64) menanggung satu orang tidak produktif (kurang dari 15 tahun dan 65 tahun atau lebih). Saat ini penduduk Indonesia adalah 255,4 juta orang (2015) dan sekitar 180 jt orangnya adalah usia produktif. Dan Indonesia adalah Negara mayoritas muslim yaitu dengan penduduk 87 % beragama islam. Bisakah kita memanfaatkan ini?.

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk membuat strategi dalam memngambil keuntungan bonus tersebut. Salah satunya dalah dengan dibuatnya  Grand Design Pembangunan Proyeksi Penduduk (PP) yang disusun oleh Bappenas, BKKBN, Kementerian Kesehatan, UNFPA, dan para ahli demografi,  berdasarkan data acuan BPS. Dalam dokumen tersebut dikatakan bahwa “Indonesia, menurut perhitungan, sudah mengalami bonus demografi sejak tahun 2012, dan puncaknya akan terjadi di tahun 2028-2030”. Banyak hal yang harus disiapkan untuk memanfaatkan bonus tersebut diantaranya: menyiapkan SDM dengan pendidikan yang baik, membangun ekonomi kerakyatan (dalam negeri), dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Hal ini banyak dibahas oleh para ahli salah satunya karena sepertiga dari pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh demografi. Salah satu conoth negara yang sukses memanfaatkan bonus tersebut adalah Korea Selatan.

Ketiga permasalahan diatas merupakan sebuah problematika yang secara cepat harus disadari dan dicari solusinya. Jumlah guru, bonus demografi, kebutuhan kualitas guru pada zaman bonus demografi, dan peran guru muslim. 2028, puncak demografi terjadi 12 tahun lagi dan itu artinya siswa yang baru lulus dan yang masih sekolah akan turut serta memanfaatkan bonus tersebut. Akan sangat mulia ketika orang-orang yang memimpin ummat, menjadi teladan masyarakat, menjadi tokoh-tokoh muda, dan menjadi calon ulama besar, adalah orang-orang generasi qurani. Generasi yang menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan meyakini bahwa dengan pedoman tersebut ia akan sukses.

Dari berbagai problematika diatas, terlihat bahwa peran guru sekarang sangat vital, punya pengaruh signifikan, dan menjadi penopang suksesnya bonus demografi. Oleh karena itu, kita perlu menyamakan persepsi ‘kenapa kita harus menjadi guru?’. Sehingga kedepannya persepsi kita sama, apa yang kita lakukan memiliki niat yang sama, langkah yang sama, perjuangan yang sama, usaha yang sama, yaitu usaha terbaik untuk menjadikan anak didik terbaik di masanya. Dan kelak menjadikan anak didik kita pribadi qurani yang unggul yang layak dipilih dimanapun ummat membutuhkan.

Persepsi pertama yang kita bangun adalah bahwa guru merupakan sebaik-baik manusia. Dalam hadist shohih dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mengajarkan Al-Quran dan mengajarkannya. Sehingga, ketika kita sudah membangun persepsi kita dalah sebaik-baik manusia maka kita pun akan memberikan potensi sebaik-baiknya, kemampuan terbaiknya, untuk menjalankan tugas sebagai guru.

Selanjutnya yang perlu kita bangun adalah bahwa guru adalah tugas mulia, tugas para nabi, tugas yang dinisbatkan pada Allah. Dalam Al-Quran dikatakan wa’allama adamal asmaa kullaha, dan Allah ajarkan kepada adam nama benda semuanya. Dalam ayat lain dikatakan wa yu’allikumul kitaba wal hikmah, Dan mengajarkan kepada kamu al-quran dan hikmah. Sehingga tugas ini adalah tugas yang mulia dalam rangka melanjutkan risalah para nabi. Oleh karena itu, kita yakini bahwa tugas sebagai guru adalah tugas yang mulia sehingga apa yang kita lakukan pun akan bersifat mulia, tidak melenceng dalam aktivitas belajar dan mengajar.

Setelah kita yakini bahwa guru adalah sebaik-baik manusia, lalu kita yakini bahwa guru adalah tugas yang mulia, lalu mindset yang kita bangun adalah bahwa misi guru untuk melahirkan anak ideologis. Ada beberapa alasan mengapa hal ini perlu kita tanamkan. Diantaranya adalah karena anak ideologis ini adalah asset pahala kita, amal jariyah, albaqiyat assholihat, amal yang tidak berhenti. Ibarat bisnis, inilah bisnis investasi yang selalu saja keuntungan masuk ke kantong kita meskipun kita sudah tidak aktif bekerja. Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa ‘semua amal anak adam terputus kecuali 3 hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholih yang mendoakannya’. Dari 3 jenis amal jarinyah, tugas guru termasuk 2 hal tersebut. Oleh karenanya misi kita bukan lagi sekedar guru adalah pekerjaan, tempat mencari nafkah, penghasilan, dlsb. Tapi misi guru adalah untuk mencetak anak ideologis yang kelak ia menjadi masa depan bangsa. Jika kita lihat semangat JIL ketika dilaunching, mereka mengutip pernyataan Socrates bahwa ‘aku adalah dukun yang membantu orang melahirkan tapi bukan melahirkan anak, melainkan melahirkan gagasan’.

Setelah kita persiapkan diri kita dengan persepsi yang sama, kita perlu menyeragamkan metode mengajar kita. Hal ini penting sekali mengingat kita sebagai guru bukan sekedar mengajar tapi kita mengajar pada zaman khusus dimana anak-anak didik kita kelak akan menjadi potensi ummat. Metode yang kita bangun adalah setiap ilmu yang diajarkan akan menambah keimanan siswa. Mungkin sebagian besar kita bertanya-tanya, apakah semua ilmu berhubungan dengan keimanan? Ketauhidan? Termasuk ilmu-ilmu sains dan social? Ya. Pasti berhubungan. Dan itu adalah kunci sukses para nabi dalam menuntut ilmu. Bagaimana caranya? Pertama-tama, sebagaimana nabi Ibrahim ketika belajar pada Allah, bahwa ilmu bukan sekedar pengetahun tapi untuk menambah kemantapkan hati (liyathmainna qolbi). Hal inilah yang perlu dibangun kepada siswa bahwa dalam belajar kita bersihkan hati dan kita yakini bahwa menuntut ilmu bukan sekedar untuk tau tapi untuk memantapkan hati.

Yang kedua adalah, guru luar biasa adalah guru yang bisa mencari referensi, logika-logika, diskusi-diskusi, dalil pendukung, fenomena-fenomena alam dan social yang berkaitan dengan ilmu yang diajarkan dengan keimanan dan ketauhidan. Sehingga bahan yang diajarkan bukan sekedar pengetahun sains dan social saja tapi materi tersebut adalah bagian dari ilmu ketauhidan. Sebagai contoh ilmu fisika tentang gaya. Bahwa setiap benda di bumi memiliki berat sehingga ia memiliki gaya berat (w) yang dipengaruhi oleh gravitasi (w=m.g). Gravitasi ini adalah kemahabesaran Allah bahwa alam didesain agar setiap benda yang memiliki berat pasti akan jatuh kearah bawah / ke bumi. Itulah gravitasi. Dan benda-benda di langit yang tidak jatuh secara ilmiah adalah karena tidak memiliki gravitasi, dan sebenarnya itu adalah atas kesengajaan Allah, atas izin Allah, sebagaimana surat al-hajj ayat 65 ‘... dan  Dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin Nya…’. Allah ciptakan bumi sedemikian rupa sehingga kehidupan seimbang. Bayangkan jika bumi tidak ada gravitasi? Untuk jalan saja kita tidak bisa karena kita akan melayang!. Betapa hebatnya Allah mengatur bumi ini dan betapa baiknya Allah terhadap kita, oleh karenanya sifat syukur adalah keharusan dan kebutuhan kita.

Setelah kita bangun kesadaran santri bahwa belajar bukan sekedar untuk tau tapi untuk memantapkan hati kepada Allah, lalu kita berikan penjelasan materi yang ternyata selalu berkaitan dengan ketauhidan dan kemahabesaran Allah, dan yang berikutnya adalah bahwa setiap kesadaran yang telah dibangun lewat penjelasan-penjelasan tadi langsung disambung dengan bersegera dalam aktivitas keimanan. Hal ini dicontohkan oleh nabi Musa dalam surat al-a’rof ketika beliau ingin belajar pada Allah melihat wujudnya, setelah direalisasikan maka musa pun berkata falamma afaaqo qola subhanaka tubtu ilayka wa ana awwalul mukminin, setelah Musa sadar ia berkata ‘Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman’. Dalam ayat tersebut ada 3 aktivitas keimanan nabi Musa ketika ia sudah sadar yaitu ia memuji tuhannya, lalu ia bertaubat atas kesalahan dan penyimpangannya, dan ia tutup dengan bersegera dalam kebaikan (ibadah). Ketiga follow up Nabi Musa ini harus kita ikuti dalam metode mengajar kita agar anak didik kita dimanapun dia belajar, dengan guru siapapun, dan pada materi apapun, semuanya menuju pada meningkatnya keimanan siswa. Sehingga siswa pun dengan sendirinya akan sadar bahwa aktivitas kita selalu kembali pada Allah, kembali pada Al-Quran yang merupakan karyaNya, dan kitab itu pun tidak hanya sekedar dibaca dan dihafal tapi diaplikasikan dalam kegiatan keseharian mereka.

Itulah beberapa hal yang perlu kita samakan persepsi dan metode kita tentang guru, sehingga kelak kita menghasilkan anak didik yang dapat memanfaatkan bonus demografi sebagai peluang bagi generasi Qurani unjuk gigi dihadapan masyarakat. Mereka sukses karena digembleng dalam nuansa keimanan sepanjang waktu, menjadikan mereka sadar bahwa setiap waktu hidup mereka adalah karena Allah, dan setiap mereka mendapat masalah mereka akan merujuk kepada Al-Quran yang merupakan kalamNya.

Semoga Allah SWT memberikan ganjaran terbaik pada semua guru, guru yang dibutuhkan zamannya, guru yang melahirkan anak ideologisnya, sehingga Islam dapat berjaya memanfaatkan bonus demografi Indonesia.

[Selamat Hari Guru]

Artikel oleh : Ust. Muhammad Abdul Hasib, M.Si, Penulis adalah Ketua Harian Yayasan Darul Quran Mulia

FOTO GALERI DQM TERBARU