VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Betapa Sayangnya Allah Kepada Kita, Manusia


musibah

Bogor (20/9/2016) - Mungkin ada di antara kita yang merasa tidak diberikan sedikit pun kebahagiaan oleh Allah. Rezekinya pas-pasan bahkan selalu kurang. Rumahnya kecil dan sempit di mana dapur, kasur, dan ruang tamu berada di satu ruang yang sama dengan ukuran 2x3 meter.

Mungkin ada pula yang merasa seluruh usahanya sia-sia. Hidupnya penuh dengan kegagalan dan kerugian. Jerih payahnya yang sudah dikeluarkan tidak menghasilkan apa-apa. Seakan semuanya sia-sia. Seolah semuanya sudah habis tanpa tersisa sedikitpun.

Benarkah Allah tidak sayang kepada kita? Benarkah Allah meninggalkan kita sendirian tanpa pertolongan-Nya? Benarkah Allah melupakan diri kita dalam kehidupan ini, saat kita susah, sengsara, sulit, dan berat?

Atau barangkali kita seperti anak kecil yang merengek-rengek meminta uang 10.000 untuk bisa membeli es, padahal anak tersebut sedang sakit batuk pilek? Atau kita seperti seorang anak menangis terus karena ingin bermain game online melalui gadget orangtuanya? Orangtua yang sayang kepada anaknya, tentu saja ia tidak akan memberikan uang dan gadget tersebut dan tidak peduli dengan rengekan atau tangisan. Sebaliknya, orangtua yang tidak peduli dengan anaknya akan segera menyodorkan apa yang diminta sehingga tangisan tidak lagi terdengar. Dalam cerita ini, penolakan justru menjadi kasih sayang, sebaliknya pemberian justru menjadi bukti kebencian.

Marilah kita renungkan cerita dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Ada seorang ibu yang ingin menyusui bayinya, maka kemudian bayi tersebut digendong oleh sang ibu, lalu didekatkannya, dan disusuinya. Kemudian Rasululllah menyampaikan kepada para sahabat, “Apakah mungkin jika ibu tersebut akan melemparkan bayinya kepada neraka?” Sahabat menjawab, “demi Allah, tidak mungkin ya Rasul!” Kemudian Rasul menyatakan, “Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya lebih dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya”.

Keyakinan bahwa kita sedang dicintai dan disayangi oleh Allah adalah hal yang sangat penting dalam seluruh perjalanan hidup kita. Keyakinan itu memberikan kekuatan yang lebih untuk bisa melakukan sesuatu yang menjadi tugas kita. Keyakinan bahwa Allah mencintai, akan mendorong kita untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih dari itu, sehingga kita siap menyambut cinta Allah dengan kecintaan dalam setiap langkah yang kita lakukan. Di samping itu, hidup yang diawali dengan keyakinan bahwa kita “dicintai” pada saat yang sama akan membawa kita pada keengganan untuk bermaksiat kepada-Nya.

Dalam psikologi anak, keadaan “merasa dicintai” memiliki dampak positif yang banyak pada anak, misalnya adanya kepercayaan diri pada anak yang memberikan mereka kekuatan untuk tumbuh dan berkembang secara baik serta dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi. Kondisi psikologis “merasa dicintai” juga  berefek positif pada fisik seseorang seperti menurunkan tekanan darah yang tinggi, menormalkan detak jantung, dan meningkatkan hormon kebahagian.

Dengan demikian ada psikologi positif universal yang Allah tebarkan kepada seluruh umat manusia, ketika Allah mencintai setiap kita, manusia. Namun demikian, perasaan “merasa dicintai” kadang kala tidak ada. Oleh karena itu perasaan tersebut perlu dibangkitkan, karena memang seperti itulah sebenarnya Allah. Allah tidak akan menzholimi hamba-hamba-Nya. Allah tidak akan mengingkari janji-jani-Nya. Adakah kalimat yang lebih bisa dipercaya dan terjamin kebenarannya melebih kalimat Allah? Dari kesadaran “merasa dicintai” itu maka setiap orang akan semakin bahagia menikmati hidup dengan limpahan cinta-Nya. Kita semakin percaya diri saat mengemban amanah yang mulia dan semakin mencintai Allah SWT. Sehingga dalam hidup ini benar-benar ada cinta dan kasih sayang yang tidak pernah lekang oleh peralihan musim dan waktu.

Jika ada ungkapan “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan”, maka bagaimana dengan cinta dan kasih Allah, yang abadi selamanya….? Bagaimana dengan cinta kepada Allah yang sebenarnya tidak punya kebutuhan apapun dari kita manusia? Kecintaan yang tidak menuntut balas… Subhanalloh, begitu cinta-Nya Allah kepada kita. Marilah kita awali setiap gerak langkah kita dengan perasaan yang dalam bahwa Allah sangat cinta dan begitu cinta kepada kita!

Penulis : Dr. Abdul Ghoni, M.Hum (Rektor STIU Darul Qur'an)

FOTO GALERI DQM TERBARU