VISI Kami :  Terwujudnya peserta didik yang sholeh, beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, mandiri, dan cinta Al-Qur’an

Keutamaan Berqurban Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim AS | Bag. 2


Setelah perjuangan yang begitu panjang dan kesetiaan terhadap perintah Allah SWT  dilakukan dengan sempurna, muncul ujian berikutnya. Allah SWT memberikan isyarat kepada Ibrahim dengan menjauhkan Ibrahim dari anaknya, Ismail agar membawa anaknya ke Makkah sementara Ibrahim harus pergi lagi ke Palestina. Perintah itu dilaksanakannya walau dengan bberat hati, tapi prinsip keimanan yang begitu tertanam di dalam dirinya bahwa orang yg beriman adalah orang yg paling mencintai Allah SWT dibandingkan yang lain. Sampai kemudian datanglah ujian dari Allah SWT yang maha hebat. Setelah sang anak, Ismail tumbuh besar yang menjadi anak yang sholeh lagi cerdas dan sabar dan nabi Ibrahim makin cinta dan yakin bahwa ia akan menjadi penerusnya. Allah SWT mengujinya dengan menurunkan wahyu berupa perintah menyembelih Anaknya yang sudah tumbuh menjadi remaja itu, yaitu pada surat As-Saffat ayat 102 yang artinya, ”Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

india-eid-al-adha-2010-11-17-6-50-0

Ketika Nabi Ibrahim membaringkan Ismail yang siap untuk disembelih dan hampir saja dilakukan penyembelihan itu, lalu Allah SWT menyerukan kepada Nabi Ibrahim pada ayat berikutnya, “Dan kami panggil dia, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan kami menebus anak itu dengan seeokor sembelihan (kambing) yang besar. (QS. As-Saffat: 104-107) Maka ketika Ibrohim menyembelih, kambinglah yang disembelihnya.

Surat tersebut menggambarkan bahwa berqurban itu bagian dari ujian Allah SWT kepada hambanya yang beriman, sejauh mana ia taat dan cinta kepada Allah SWT. Apa yg dilakukan Nabi Ibrahim lalu dilanjutkan oleh Rasullah SAW, yaitu dalam Surat Al-Kautsar ayat satu, “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang sangat banyak karenanya syukurilah nikmat-nikmat itu”. Dan cara mensyukuri adalah dengan sholat. Maka sholatlah karena tuhanmu secara vertical dan berkorbanlah. Rasulullah Saw bersabda, Tidak ada amal anak Adam pada hari Nahr ('Iedul Adlha) yang paling disukai Allah ‘Azza wa Jalla selain daripada menyembelih qurban, qurban itu akan datang kepada orang-orang yang melakukannya pada hari kiamat seperti semula, yaitu lengkap dengan anggotanya, tanduk, kuku dan bulunya. Darah qurban itu lebih dahulu jatuh ke suatu tempat yang disediakan Allah ‘Azza wa Jalla sebelum jatuh ke atas tanah. Oleh sebab itu, berqurbanlah kalian dengan senang hati. (HR. Ibnu Majah)

Begitulah Sunnah Nabi Ibrahim yang kemudian dilanjutkan Rasulullah SAW. Ada lagi hadist dari Rasulullah SAW tentang kecaman Rasul buat orang-orang yang bergelimang harta, “Barangsiapa yang mempunyai kelapangan rezqi, tetapi tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ibnu Majah) Itulah karenanya sisihkanlah sebagian harta kita untuk bisa berkurban sebagai wujud syukur dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Dibalik perintah dan syariat berqurban itu adalah dalam rangka membuktian kecintaan kita kepada Allah SWT diatas segala-segalanya dibanding harta kita dan lainnya. Itulah Hikmah yang pertama. Kedua, membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT “Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil". (Hadits Bukhari). Ketiga, membuktikan kecintaan kita kepada Rasulullah sebagai figur tauladan disamping Nabi Ibrahim dengan melaksanakan sunnahnya itu. Berqurban juga memiliki dimensi sosial agar orang-orang di sekitar kita yang sebelumnya tidak mampu makan daging, dengan adanya qurban dari kita mereka bisa bahagia makan makanan berupa daging yang bergizi. Ini merupakan bentuk kepedulian kita kepada orang-orang di sekitar kita dengan menghilangkan batas antara kaya dan miskin. Sahabat Ibnu Abbas saat idhul adha tidak memiliki banyak harta dan ia mengambil hartanya itu lalu pergi ke pasar untuk membeli daging beberapa kilo dan membagikannya sambil berkata: “Ya, Allah inilah kurbanya ibnu abbas, hambamu yang tidak mampu membeli seeokor kambing sembelih.”

Itulah hikmah yang bisa dipetik dari kisah Para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu tentang semangat untuk berqurban. Semoga bisa menjadi motivasi kita untuk senantiasa berqurban seraya menjalankan perintah Allah Swt dan Sunnah yang diajarkan Nabi Ibrahim dan Rasulullah Saw. (Sebelumnya: Keutamaan Berqurban Bag. 1)

Tausyiah: KH. Abdul Hasib Hasan, Lc

FOTO GALERI DQM TERBARU